Social Media

Dari ‘familiar’ menjadi ‘asing’

© Galeri Soemardja

Dari ‘familiar’ menjadi ‘asing’

May 6, 2014      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



 

Justine Khamara Rotational Affinity 2013 hand cut colour photograph  80x114cm

Justine Khamara Rotational Affinity
2013
hand cut colour photograph
80x114cm

Vertigo, Apa yang terlintas ketika mendengar kata tersebut? Berputar, melayang, sensasi gerak dan merasa pusing misalnya? Seperti itulah yang terlihat dalam visual pameran Vertigo,  yang berlangsung 20 Maret-15 April 2014 di Galeri Soemardja. Pameran ini diadakan oleh Asialink dan BLINDSIDE, dan merupakan Program Pameran Keliling Asialink 2014.

Memasuki ruang galeri, terpasang banyak karya video yang jumlahnya hampir mendominasi dibanding jenis karya lainnya seperti instalasi, dan karya 2 dimensi. Dari semua karya, mata saya langsung tertuju pada video karya Bonnie Lane, karena video tersebut nampak biasa-biasa saja, yaitu: visual yang terus berputar dan bergerak dengan wujud yang sama dengan sedikit perpindahan posisi.  Seperti video berjudul ‘Like Sand through the hourglass’, seekor tikus putih berputar terus menerus dalam rodal putar yang ia gerakan. 3 video lain karya Bonnie Lane memperlihatkan cara yang sama, seperti perputaran mesin cuci, visual kaleidoskop potongan kaki yang terus bergerak,  dan sebagainya. Tidak ada rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, karena awal-tengah-dan akhir nampak sama saja dalam 1 gerakan berputar. Bagi saya menarik, karena walaupun berulang dan mudah ditebak, saya sebagai audience malah semakin bingung akan makna dibalik karya tersebut.

Gerakan berputar lainnya juga terlihat dalam karya 2 dimensi Justine Khamara berjudul ‘Rotational Affinity’.  Karya ini menampilkan foto wajah dan pada bagian tengahnya terdapat lingkaran distorsi yang diciptakan oleh potongan foto itu sendiri. Potongan foto digeser memutar sedikit demi sedikit searah jarum jam dari 1 potongan foto ke potongan foto lainnya dari arah luar ke dalam. Melihat karya ini seperti dalam keadaan pusing, yaitu wujud yang masih dapat dikenali (muka seseorang), namun bentuknya sedikit tidak beraturan.

Dengan menggolongkan jenis karya lainnya, Tania Smith memberikan humor dalam karya videonya. Video Tania Smith secara berulang menampilkan berbagai aktivitas yang seolah ia lakukan secara sembunyi-sembunyi disertai rasa senang. Saya ikut merasa lucu, karena aktivitas yang ditampilkan dalam video merupakan aktivitas yang tidak wajar, namun dilakukan dengan atribut yang familiar. Salah satu contoh yaitu secara sengaja menyemprotkan semprotan pemadam kebakaran di taman(yang tidak ada api sama sekali). Setelahnya kabur sambil tertawa kecil.

Yang paling atraktif dari karya-karya lainnya di tampilkan dengan visual yang sangat biasa namun mengundang kejanggalan. Pada salah satu karya Kiron Robinson, bola lonjong putih tergantung dengan sisi bawah yang berlubang. Mungkin karya ini berhenti sampai pada penampilan luarnya hingga salah seorang penjaga galeri menawarkan untuk memasukan kepala saya kedalam lubang tersebut. Rasanya bergema karena tertutup, dan terang karena warna putih yang semakin silau oleh sinar lampu diatasnya. Cukup membuat saya berdiam sejenak didalamnya, walaupun saya tahu tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam lubang putih.

Kiron Robinson My Head is my Home, my Head is my Home 2008 Fibreglass, light bulb 50 x 86 x 50 cm

Kiron Robinson
My Head is my Home, my Head is my Home
2008
Fibreglass, light bulb
50 x 86 x 50 cm

Secara keseluruhan, apa yang ditampilkan dalam karya Vertigo memiliki 1 benang merah, yaitu perasaan asing yang ditimbulkan setelah melihat visual yang ada. Namun perasaan asing ini disertai dengan rasa aneh. Mengapa? Karena objek yang ditampilkan sangat biasa dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. namun entah mengapa, ditampilkan dengan sangat janggal sehingga terkesan memiliki jarak dengan manusia. Mungkin permainan ‘berulang’, ‘berputar’, ‘terpotong’, ‘distorsi’ dan apapun itu membuat visual dan kata yang paling familiar dirasakan sebagai sesuatu yang sangat baru? Atau justru cara seniman Vertigo yang menghadirkan kejadian/visual familiar kedalam suasana flat dan dingin yang memunculkan perasaan keterasingan bahkan humor? Yang jelas, Vertigo merupakan pameran dengan sub judul ‘kekacauan dan keterpisahan dalam seni kontemporer Australia’. Dan mungkin hal tersebutlah yang dirasakan dalam seni kontemporer khususnya oleh seniman Australia.

Pameran ini rasanya tidak biasa, karena bisa jadi bukan sekedar untuk memperlihatkan fenomena yang terjadi di Australia dalam dunia seni seperti yang tertulis pada sub judul tersebut, melainkan memperlihatkan masalah yang justru menjadi masalah bersama dalam seni rupa kontemporer. Mungkin sebagai awal menggali dan merenungkan isu dan permasalahan dalam dunia kontemporer sehingga diskusi yang berkelanjutan dapat menjadi solusi dalam menentukan langkah selanjutnya dalam perubahan yang terjadi secara terus menerus.

 

- Meliantha Muliawan-

 



Comments are closed.