Social Media

Suasana Pembukaan Pameran - dok Panitia BC 2013

Menengok Kecenderungan Seniman Generasi Termuda Bandung

November 22, 2013      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



Generasi termuda seni rupa Bandung rupa-rupanya mulai bergeliat. Ya, generasi termuda karena mereka terdiri dari para lulusan perguruan tinggi seni rupa yang lulus sekitar 1 – 3 tahun yang lalu, bahkan beberapa baru saja lulus dalam hitungan bulan. Inisiatif mereka menghasilkan sebuah  projek yang tersaji dan bisa dinikmati oleh publik seni rupa di Bandung dalam seminggu belakangan ini. Bandung Contemporary 2013 sebuah projek yang berisi beberapa gelaran pameran, berlangsung 22 Oktober – 12 November 2013 tersebar di beberapa ruang seni di Bandung, antara lain: Selasar Sunaryo, Lawangwangi, Galeri Hidayat, Galeri Kamones, Auditorium IFI (Pusat Kebudayaan Prancis, Galeri Gerilya, Galeri Sarasvati dan Platform 3.

Hal yang menyenangkan dan patut segera dicatat adalah bahwa projek Bandung Contemporary 2013 ini memperlihatkan ketertarikan generasi termuda pada dunia seni rupa hari ini, tidak melulu untuk menjadi seniman, tapi mulai tampak ketertarikan untuk menjadi kurator serta ketertarikan untuk berkecimpung dalam bidang manajemen seni. Proyek ini digarap oleh anak-anak muda dalam hal manajemen acara, melibatkan 35 seniman muda (tertua berusia sekitar 28 tahun-an) dan digawangi 3 orang kurator muda di Bandung; Sally Texania, Chabib Duta Hapsoro dan Rifandy Priatna. Diantara sederet pameran dalam projek ini, dua diantaranya pameran bersama (grup) menampilkan karya dari 29 seniman muda. Melalui kedua pameran yang berlangsung di Selasar Sunaryo Art Space dan Lawangwangi Art Center ini, beberapa kecenderungan yang ada pada karya-karya para seniman generasi termuda ini bisa kita catat, diantaranya sebagai berikut:

Eksperimentasi Medium…

Penggunaan aneka macam medium, bahkan di luar medium konvensional nampak menjadi kecenderungan yang jamak dalam kedua pemeran ini. Ya setidaknya, kalau teknis pengerjaannya konvensional maka medium tempat teknis tersebut dikerjakan yang tidak biasa. Konsekuensinya, kita bisa mendapatkan “kejutan” yang menyenangkan serta sensasi-sensasi yang berbeda dari karya-karya macam ini. Tapi mengiringi kecenderungan ini, muncul pula persoalan bagi seniman: beberapa seniman seperti abai terhadap konsekuensi dari penggunaan atau perlakuan terhadap medium yang tidak biasa tersebut.

Karya drawing Zaenal Abidin “Will to Power”, menampilkan kerangka manusia tertancap pedang dengan dua ekor burung gagak hitam di sekitarnya dan sebuah berlian dibuat di atas lembaran kulit sapi warna-warni yang digabung dengan cara dijahit. Karya ini bisa menggugah gagasan kita tentang soal kematian atau segala upaya yang ditempuh untuk mencapai tujuan (kekuasaan, kekayaan, dsb). Tapi soal lain, warna-warni kulit sapi (coklat, kuning, oranye, biru muda, hitam) yang menjadi bidang gambar terasa dominan dan berebut fokus perhatian kita dengan citra drawing yang “hanya” berwarna hitam putih.

Lihat juga “Suaka” karya Ratu Rizkitasari di Selasar Sunaryo berupa video adegan performance si seniman menutupi sebuah komedi putar yang sedang berputar dengan kain putih. Bukankah hal yang paling menarik dan khas dari sebuah performance, adalah ketika penonton berada dalam waktu dan tempat yang bersamaan dengan si seniman serta menyaksikan langsung bagaimana ekspresi, gerak, usaha si seniman dan dan ikut merasakan suasana yang dihasilkan performance si seniman terhadap kondisi di sekitarnya….?

Masih di Selasar Sunaryo, Maharani Mancanagara tampil dengan “Polietike Inichtingendienst” tiga drawing charcoal dengan citra tentara pada era perang dunia di atas kayu yang dipotong berbentuk menyerupai orang. Bidang gambar (kayu) menjadi bagian karya itu sendiri, maka kita mendapati tiga citra tentara yang timbul (me-relief) pada dinding. Warna serta tekstur kayu bisa memperkaya tampilan citra di atasnya, memperkuat gagasan tentang sejarah dan masa lampau. Yang mengganjal, skrup / baut yang menghubungkan bagian persendian tangan atau kaki (dibuat dengan kayu yang berbeda), sulit untuk tidak menggugah pikiran kita pada sesuatu yang semestinya bisa bergerak (seperti pada wayang kulit), namun nyatanya karya itu memang tidak bisa bergerak dan juga tidak ada petunjuk untuk bisa digerakkan –oleh pengamat misalnya.

Memungut makna dari barang keseharian…

Maharani juga menampilkan gagasan masa lampau dan nostalgia melalui melalui karya lainnya, “Politieke Vorming”, kotak kayu berukuran 30 x 35 x 23 cm sebanyak 6 buah. Beberapa contoh isi dalam kotak diantaranya spatula (alat masak) besi serta beberapa macam bumbu masakan, neraca besi dan aneka tanaman obat, buku tua, perangkap tikus lengkap dengan umpannya. Karya ini sekaligus mengantar kita pada kecenderungan berikutnya: seniman berungkap dengan menggunakan barang-barang jadi (sehari-hari), seniman tidak perlu lagi membuat bentuk atau citraan baru. Di sini seniman memanfaatkan makna dan kesan yang sudah melekat pada ujud benda-benda tersebut. Misalnya, untuk mengangkat gagasan masa lalu, maka dihadirkan barang-barang dengan bentuk yang antik atau klasik, seperti neraca besi berkarat dengan bentuk penuh ornamen, atau perangkap tikus dari besi yang berkarat juga buku-buku tua yang kusam atau lapuk.

Karya Adytama Pranada “Visible Discontinuity. Me(asuring)mory” membicarakan gagasan tentang memori, maka digunakanlah sejumah kertas memo yang berisi catatan jadwal kegiatan atau janji pertemuan si seniman dengan orang lain. Sekumpulan obat kapsul, juga mengingatkan kita pada beberapa tindakan medis untuk mengobati masalah ingatan ini. Di Lawangwangi, karya Yudi Triadi “Revival #001/#002/#003”, menampilkan tiga buah kursi tamu dari kayu, mengelilingi sebuah meja kayu bundar. Kursi kayu tua (bahkan salah satunya sudah rusak tanpa sandaran), buku-buku yang lapuk serta gambar tua lengkap dengan bingkai yang penuhu ukiran, punya peran utama menyampaikan kesan masa lalu, klasik dan antik.

Antara Kecanggihan dan Kesederhanaan berungkap

Semangat penggunaan teknologi dalam karya seni juga menjadi hal yang tidak terelakkan di kalangan seniman muda. Dalam pameran ini, semangat tersebut terwujud dengan penggunaan video. Diantara karya video yang ada, paling menarik boleh jadi karya Eldwin Pradipta, “Niet Mooi of Indie Scenery”. Berisi adegan pepohonan hutan, sungai dan gunung yang semula tenang kemudian perlahan-lahan hangus dan hancur terbakar oleh kobaran api (penggunaan kacamata 3 dimensi membuat adegan kobaran api dan pohon yang jatuh hingga keluar bingkai terasa lebih nyata) yang diproyeksikan pada bagian tengah bingkai putih berukuran 110 x 200 cm. Tidak hanya menawarkan kecanggihan efek video 3 dimensi, lebih jauh, pemilihan visual di tengah bingkai membawa ingatan kita pada soal lukisan mooi indie yang selalu melukiskan keindahan alam Indonesia itu. Bila Sudjojono mengkritik lukisan mooi indie karena hanya melukiskan suasana, warna-warna yang tenang bukan realita yang sebenarnya terjadi, diam-diam karya eldwin juga mengarah pada kritik Sudjojono. Alih-alih menampilkan adegan alam yang tenang dan indah, pada akhirnya karya ini menampilkan adegan pemandangan yang dramatis, hutan yang rusak terbakar dan warna yang hitam dan gelap. Bukankah realita Indonesia saat ini diantaranya seringnya terdengar kabar kerusakan alam dan hutan, serta seringnya terjadi kebakaran hutan…?

Di samping teknologi dan perayaan kerancaman medium, kita masih bisa menjumpai beberapa seniman muda tetap teguh pada penggunaan teknik dan medium konvensional, hasil kerja dan tekad ini patut mendapat acungan jempol. Beberapa karya menunjukkan kemampuan yang baik dalam teknik, perlakuan medium, menangkap bentuk dan membuat detil selain juga dalam pengaturan komposisi warna dan objek tak ketinggalan; ketekunan bekerja. Termasuk dalam kelompok ini diantaranya: Tandya Rachmat dengan “Nafs Al-Lawammah I”, Windi Apriani dengan “The Last Room”dan Agugn dengan “Nircenggami”

Penutup

Demikian melalui dua pameran dalam projek Bandung Contemporary 2013 yang berlangsung di Selasar Sunaryo dan Lawangwangi, kita bisa mencatat beberapa kecenderungan yang umum tentang kekaryaan para seniman generasi termuda di Bandung. Sebagian besar tentu saja cukup menggambarkan semangat kekinian. Pemanfaatan teknologi sebesar-besarnya, eksplorasi serta eksperimentasi medium merupakan contoh dari manifestasi semangat tersebut. Sementara dalam soal gagasan atau tema karya, sulit dilihat kecenderungan yang dominan karena nampak minat yang merata pada tema-tema personal dan tema-tema yang lebih luas. Sedangkan semangat eksperimentasi mengakibatkan masih nampaknya kelemahan teknis pada beberapa seniman.

 

-#######-

 

-danoeh tyas-



Comments are closed.