Social Media

Karya Seniman Muda Bandung Menjelang Mitos dan Ironi

© Galeri Soemardja

Karya Seniman Muda Bandung Menjelang Mitos dan Ironi

September 15, 2013      Bulletin, Essays      Deca      no responses

Tagged with:



 

Para muda yang bersemi

Waktu mencatat beberapa tahun lalu (sekitar 6 tahunan ke belakang) seni rupa Bandung telah mendapat sorotan dalam medan seni rupa Indonesia. Bukan saja karena aktifitas para kuratornya, tetapi juga melalui karya-karya para senimannya. Hal ini berlangsung seiring bergairahnya medan seni rupa Indonesia –orang sering menyebut masa ini  sebagai masa-masa boom seni rupa- pada hari-hari itu  di mana hampir setiap bulan selalu saja ada pameran digelar. Dalam pameran-pameran itu, tidak jarang turut serta para anak muda asal Bandung sebagai senimannya.

Satu hal yang menarik pula, hari-hari itu sering pula digelar pameran-pameran yang mengapungkan isu-isu tentang seni rupa Bandung –jelas maupun samar-samar- yang melibatkan para kurator dari Bandung dan menampilkan karya-karya para anak muda (sebutlah sebagai contoh; Bandung Art Now, Bandung Initiative, Bandung New Emergence). Bak muncul di saat yang tepat, karya para anak muda itu segera mendapat sambutan yang hangat di kalangan medan seni rupa Indonesia. Bersamaan dengan itu, para anak muda itu pun mendapat sebutannya yang segera akrab di telinga –seniman muda Bandung (Anda dapat segera menemukan nama mereka pada katalog serta poster pameran-pameran yang menyematkan nama ‘Bandung’ itu).

Ada kesamaan yang khas di antara para seniman muda Bandung itu. Mereka adalah seniman-seniman jebolan perguruan tinggi seni rupa, sebagian besar –kalau tidak menyebut dominan- adalah jebolan Seni Rupa ITB. Mereka adalah para mahasiswa yang memulai studinya di kampus seni rupa ITB di awal-awal tahun 2000-an (sekitar 4 tahun awal) dan lulus 4 atau 5 tahun kemudian. Usia mereka rata-rata di bawah 30 tahun (ketika awal-awal kemunculannya).

Idola baru dan referensi…

Sejak kemunculannya, perlahan-lahan para seniman muda itu –beserta karyanya- mulai sering dibicarakan dan dibahas, utamanya di majalah seni rupa. Karya para seniman muda Bandung yang mulai banyak terpublikasi melalui seringnya pameran, juga segera populer di dalam kampus  –terutama di kampus Seni Rupa ITB- dan menjadi salah satu referensi kekaryaan para mahasiswa yang sedang belajar membuat karya yang oke punya.

Dosen-dosen seringkali mengajukan para seniman muda Bandung itu sebagai sosok yang bisa dicontoh, bukan hanya pencapaian-pencapaian estetik dalam karya, tapi juga –tentu saja- sepak terjang mereka di gelanggang seni rupa. Perasaan pautan usia yang tidak terlalu jauh serta kedekatan dalam pergaulan (mengobrol, diskusi dsb) boleh jadi adalah beberapa hal yang membuat mahasiswa tidak canggung untuk mencontoh dan meneladani para seniman muda itu, bahkan juga menjadikan mereka sebagai idola baru.

Yang lepas landas, yang sulit dijangkau…

Menariknya, seiring berjalannya waktu, seiring semakin dikenalnya nama dan karya para seniman muda Bandung tersebut, makin sulit pula karya-karya mereka dijangkau –khususnya- oleh jengukan para mahasiswa yang menjadikan karya mereka sebagai referensi dan –umumnya- oleh para publik seni rupa di Bandung. Perkaranya,  karena hingga hari-hari ini sebagian besar –untuk tidak menyebut hampir seluruhnya- pameran para seniman muda Bandung itu digelar di berbagai kota di luar Bandung, semisal Jakarta, Jogja, Surabaya bahkan di luar negeri.

Bukan para seniman muda Bandung itu tidak pernah berpameran di Bandung. Adakalanya para seniman muda itu juga terlibat pada beberapa pameran di Bandung, diantaranya sebagai undangan dalam pameran-pameran yang diadakan para mahasiswa atau kominitas seni rupa. Sayangnya, seringkali dalam pameran-pameran itu kita menjumpai karya-karya mereka yang lain dari yang sering jadi pembicaraan di medan seni rupa maupun dibahas di media massa. Alhasil, kita menjumpai karya-karya mereka yang berbeda, baik dari medium, bentuk juga tema. Karya-karya yang  lebih terasa sebagai sebuah proyek eksperimental atau mungkin juga proyek senang-senang dari para seniman muda tersebut (ini tidak berarti karya-karya ini kehilangan kualitasnya).

Seni rupa Bandung dan adik-adik mahasiswa…

Pameran-pameran para seniman muda Bandung di berbagai kota di luar Bandung, adalah hal yang wajar dan masuk akal. Kota-kota tersebut boleh dibilang memiliki hal-hal yang dapat mendukung karir para seniman muda itu. Jakarta misalnya, sudah barang tentu ibukota menjadi pusat interaksi dan perhatian medan seni rupa Indonesia. Banyaknya galeri yang berdiri di sana –dengan bermacam jejaringnya- juga kehadiran para kolektor yang merupakan “konsumen” karya seni menjadi faktor yang mau tidak mau cukup penting.

Apa boleh buat, Bandung memang tidak menyediakan kondisi yang gemerlap bagi para seniman muda itu. Ruang yang cukup representatif sebagai galeri seni rupa hanya beberapa saja di Bandung. Yang lainnya, berdiri ruang-ruang yang orang sering sebut dengan ‘ruang alternatif’. Lagi, kolektor juga tidak ada yang berseliweran dari satu pameran ke pameran lainnya di Bandung. Maka, nampaknya Bandung hanya menyediakan suasana yang kondusif bagi munculnya ide-ide serta semangat membuat karya bagi para seniman muda Bandung itu, karenanya kita bisa seharian penuh bertamu ke banyak studio seniman muda di Bandung.

Meski begitu, bukan berarti sebuah pameran di Bandung tanpa apresiator. Sebut saja misalnya para mahasiswa seni rupa (di Bandung terdapat sekitar 5 perguruan tinggi seni rupa), para lulusan perguruan tinggi seni rupa yang baru akan memulai usahanya merintis jalan sebagai seniman, yang tentu menjadikan kunjungan ke pameran-pameran sebagai kebutuhan. Selain itu, masih ada juga seniman-seniman otodidak maupun yang berasal dari sanggar-sanggar seni rupa serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi seni rupa di Bandung. Mereka itu adalah potensi apresiasi bagi pameran-pameran di Bandung dan tentunya mereka juga butuh untuk melihat karya-karya yang dianggap paling mutakhir dan diakui di medan seni rupa Indonesia saat ini (diantaranya tentu karya-karya para seniman muda Bandung).

Bagi para mahasiswa, menyaksikan langsung karya para seniman muda Bandung itu, karya-karya yang sering mereka dengar dan lihat di majalah maupun dunia maya itu, tentu menjadi kesempatan yang boleh jadi berharga. Saya dan kawan-kawan masih beruntung, pada saat kami mahasiswa, kami disodori banyak pameran yang menampilkan karya-karya para seniman muda Bandung –plus bus gratis. Seringkali pameran itu berupa pameran bersama, sehingga dalam sekali kunjungan kami seolah disuguhi satu album kompilasi karya-karya seniman paling gres dari Bandung. Bolehlah dikata, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Berbeda dengan kondisi adik-adik mahasiswa seni rupa hari ini, lesunya gelaran pameran, serta mulai seringnya seniman muda Bandung memamerkan karya-karya mereka di event-event luar negeri, membuat makin sulitnya mereka melihat langsung karya-karya para seniman muda Bandung itu. Tentu saja ada katalog dan kemudahan internet yang bisa menyajikan foto-foto karya itu pada kita. Tapi berapa akurat pengalaman estetik yang bisa kita dapat melalui foto-foto itu…? Bagaimana bila kita bicara tentang detil, tekstur, brushstroke, intensitas warna, kepejalan bentuk atau adegan video misalnya…?

Menunggu karya mereka pulang kampung

Lalu, apa saya sedang menganjurkan agar para seniman muda Bandung itu sering-sering pameran di Bandung…? Ya, sebenernya ngga segitunya juga. Saya hanya berpikir, tak ada salahnya kalau para seniman muda Bandung itu sesekali menggelar pameran di Bandung. Bolehlah pameran bersama antar mereka atau -lebih bagus- pameran tunggal, yang jelas mereka memamerkan karya-karya terbaiknya, serupa dengan karya-karya yang mereka pamerkan di berbagai event di luar Bandung itu.

Dengan kondisi medan seni rupa Bandung serta dengan publik seni rupa yang ada –seperti yang disebutkan sebelumnya- boleh jadi, pameran yang ada di Bandung pada akhirnya berfungsi sebagai edukasi. Mungkin karena itupula, seringkali pameran di Bandung selalui disertai dengan diskusi, artist talk atau  workshop. Maka pada saat seperti inilah cakrawala bisa diperluas: bukankah proses “konsumsi karya seni rupa” juga bisa dilihat sebagai proses apresiasi dimana terjadi pertukaran informasi, ide dan pengetahuan dari seniman melalui karyanya kepada publik yang melihatnya…? Bandung memang tidak menjanjikan yang gemerlap dan berkilau.

Tanpa adanya inisiatif pameran-pameran macam itu, karya para seniman muda Bandung itu boleh jadi perlahan-lahan menjelma sebagai sebuah mitos. Ia hanya bisa didengar ceritanya dari mulut ke mulut serta hanya bisa dilihat lewat foto-foto di katalog atau majalah serta layar dunia maya, tanpa pernah bisa dihadapi dan dibuktikan kualitasnya secara langsung. Menjadi mitos kerena sulit dijangkau oleh publik yang  justru berada dekat, di sekitar tempat di mana karya-karya itu lahir dan dibuat dan berharap mendapat banyak hal dari karya-karya tersebut, boleh jadi adalah sebuah ironi.

Dan ironi itu menjadi lebih pelik lagi ketika karya-karya itu hanya menjadi pingitan bagi jengukan para Mister dan Mistress nun di seberang sana….

 

#######

 

 

-danoeh tyas-



Comments are closed.