Social Media

Archiving Apin

Archiving Apin: Arsip-arsip Perjalanan Kesenimanan Mochtar Apin

September 14, 2013      Current, Events, Exhibitions      madyn      no responses

Tagged with:



Archiving Apin
Arsip-arsip Perjalanan Kesenimanan Mochtar Apin

18 September – 4 Oktober 2013

Pembukaan pameran
Rabu, 18 September 2013 | Pukul. 19.30 WIB

Dibuka oleh
Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA

Diskusi
Mochtar Apin Dalam Pusaran Sejarah Seni Rupa Modern Indonesia

Rabu, 25 September 2013 | Pukul. 10.00 – 14.00 WIB

Pembicara

Drs. Haryadi Suadi
Jim Supangkat
Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA

Pameran dan Diskusi terbuka untuk umum

Jam buka galeri
09.00 – 16.00 Senin-Jum’at
Sabtu dan Minggu libur

Mochtar Apin, orang yang merintis eksistensi seni grafis ini di Indonesia, adalah seniman yang merepresentasikan bagaimana menjadi “seniman modern” di negara berkembang adalah hal yang mungkin. Pada pertengahan 1940-an, bersama sejumlah seniman lainnya, ia meyakini nilai universalitas seni; tetapi satu kakinya yang lain mendukung eksistensi seni lukis modern tanahair. Pada tahun – tahun itu pula, Apin dikabarkan membela S. Sudjojono ketika berselisih paham dengan pelukis dan pengajar Seni Rupa-ITB berkebangsaan Belanda Ries Mulder terkait soal ada-tidaknya seni lukis Indonesia.

Mochtar Apin sesungguhnya sulit dikotakkan ke dalam satu kecenderungan gaya tertentu atau apa yang sering diyakini orang sebagai “jatidiri” seorang seniman yang terpancarkan melalui rangkaian karyanya. Berbeda dengan S. Sudjojono yang khas dengan sabetan kuasnya, Hendra Gunawan dengan warna-warna cerah dalam lukisannya, atau Affandi dengan coretan liar cat yang dikeluarkannya langsung dari tube, Apin akan menyulitkan orang yang bersikeras menemukan satu asas tunggal dalam karyanya. Sanento Yuliman pernah menuliskan dalam pameran retrospektif Apin pada 1988 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta:

Orang bertanya-tanya di mana Mochtar Apin dalam kurang lebih 100 gaya lukisan dan grafisnya. Jangan mengharap jawaban konvensional. Memilih, memandang, dan memecahkan masalah dalam perkembangan dialektis – bukan pemekaran sebuah gaya. Itulah Mochtar Apin.

Eksperimen – yang khas dalam proses kreatif – memang dijalani Apin tanpa beban meskipun cukup membingungkan orang yang menghadapi pamerannya di TIM pada 1988 itu. Apin sendiri menanggapi pandangan orang yang mengatakan dirinya “mendua” dalam berkarya seni:

Kebanyakan orang berpendapat, atau berpikir, bahwa seni eksperimental itu selalu berwujud muskil, aneh. Padahal tidak. Saya menganggap setiap karya seseorang merupakan eksperimen, suatu percobaan penciptaan yang langsung jadi. Begitu pula pada karya-karya saya. Setiap kanvas saya adalah hasil eksperimen. Ia merupakan kristalisasi sebagian kesimpulan kehidupan saya yang secara eksperimental saya ungkapkan di sana. Ya, orang selalu berpikir seni eksperimen itu semacam happening art, begitu….

Akhirnya, terlihat kehidupan Mochtar Apin yang memiliki banyak segi. Kenyataan ini menarik untuk diamati sebab bertalian baik secara langsung maupun tidak dengan perkembangan seni rupa Indonesia. Bagaimanapun, ia adalah pelaku dalam sejarah seni rupa yang telah banyak memberikan kontribusi.

Pameran ini menampilkan sosok Apin melalui sejumlah arsip berupa dokumen tertulis dari petikan surat kabar, katalog pameran, poster, kutipan dari para komentator, catatan-catatan pikiran, atau arsip bergambar berupa foto studio Apin, dan juga artefak berupa karya lukis, cetakan lino, dan sejumlah dokumen berupa lainnya yang belum pernah dipamerkan dalam pameran-pameran resmi Apin sebelumnya.

Dan seperti halnya tujuan umum pameran arsip seorang seniman, melalui pameran ini, sosok Apin sebagai kepala keluarga, seniman, guru besar, dan manusia diharapkan bisa hadir secara utuh dan apa adanya. Selain itu, pameran ini juga diharapkan mampu membangun gambaran proses kerja kreatif seorang Mochtar Apin pada suatu masa tertentu dan bagaimana secara sosiologis dia bersinggungan dengan medan seni Indonesia yang nyaris tanpa jarak.



Comments are closed.