Social Media

Sketsa karya - sumber katalog

Mengintip Karya-karya Takashi Kuribayashi

August 19, 2013      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



 

Takashi Kuribayashi -seniman asal Jepang kelahiran Nagasaki dan sempat menjalani pendidikan di Jerman- beberapa bulan terakhir menjalani residensi di Selasar Sunaryo Art Space. Lalu, apa hasil dari residensinya itu…? Kita bisa menemukannya dalam pameran tunggalanya di Selasar Sunaryo –“Threshold / Ambang”- yang berlangsung 27 Juli – 25 Agustus 2013.

Dalam pameran tunggalnya kali ini, Takashi menambahkan beberapa dinding baru sebagai sekat dalam ruang pamer. Pada tiap sekat tersebut, ia membuat sebuah lubang kecil seukuran wajah berbentuk kotak, sehingga kita dapat mengintip apa yang terjadi di ruang sebelah. Tak ketinggalan tiap lubang ia beri bingkai. Maka kita seperti melihat sebuah karya dua dimensi bolong yang terpajang di dinding atau kita melihat sebuah karya dua dimensi dengan citra yang dapat bergerak di dalamnya. Seperti di ruangan pertama misalnya, kita dapat melihat suasana ruang sebelah, orang yang berlalu lalang, bahkan wajah orang lain yang mengintip dari ruang sebelah. “Lubang intip” ini seperti menjadi pengantar bagi kita untuk memasuki ruang sebelah, sebelum kita benar-benar beranjak –secara fisik- untuk berpindah ruangan.

Pada ruangan kedua, sebuah bilik kotak memenuhi bagian tengah ruangan. Bilik ini dikelilingi oleh dinding-dinding dari papan kayu. Lagi-lagi, untuk melihat ke dalam kita hanya disuguhi beberapa lubang kotak kecil berbingkai, bedanya kali ini pada bagian dalam, lubang ditutupi oleh sangkar burung. Itulah karya Bird Cage, dari balik sangkarlah kita bisa melihat sekumpulan pohon hijau -mengesankan suasana yang rimbun- dan sekitar dua ekor burung. Karya ini boleh jadi memberikan beberapa pengalaman pada kita. Pertama, mungkin rasa janggal karena di tengah-tengah sebuah ruang berubin, berdinding putih dan berpintu kaca, kita menemukan sebuah kebun (atau hutan) yang tenang, hijau dan rimbun yang terisolasi dan tertutup dari ruang sekitarnya yang ramai – kedua ruang ini seakan memiliki kehidupanya sendiri dan tidak saling mempengaruhi. Kita seperti orang asing yang diam-diam ingin mencari tahu isi dari ruang terisolasi tersebut sambil mengintip dan merunduk-runduk. Kedua, boleh jadi kita ditawari pengalaman untuk seolah-olah merasakan bagaimana melihat sekeliling dari dalam sangkar –seperti burung peliharaan. Pandangan yang terbatas serta terhalang oleh jeruji-jeruji kayu, adalah pemandangan yang kita dapat, sementara di luar sangkar nampak pepohonan dan burung-burung yang beterbangan. Pada saat bersamaan, pengalaman ini juga seolah mengajak kita bermain dengan pertanyaan; siapa sebenarnya yang sedang terkurung –sangkar selalu diasosiasikan dengan kurungan- dan siapa sebenarnya yang bebas…? Siapa yang sebenarnya berada di dalam dan siapa yang berada di luar…?

Pengalaman janggal lain, muncul pada karya Faces. Melalui lubang kotak, kita akan berhadapan dengan banyak bagian wajah kita, yang terpantul dari banyak cermin yang disusun berserakan di dalam ruangan (ukuran cermin-cermin yang kecil, mengakibatkan wajah tidak terpantul seluruhnya). Karya ini boleh jadi, mengintimidasi kita, karena kita seakan-seakan berhadapan dengan banyak mata yang terus menatap dan mengawasi kemanapun kita menengok ke dalam ruangan.  Ruangan yang kecil, gelap (hanya nampak pekat dan hitam) mengesankan sebuah ruang yang kedap cahaya maupun udara, juga memberikan tekanan psikologis ketika kita menolehkan wajah untuk masuk menengok ke dalam.

Berkebalikan dengan karya Faces, kita berhadapan dengan karya Tornado ID no. 001. Kali ini kita mengintip pada sebuah ruang yang luas dan lengang. Bagian lantai yang mengkilap dan berwarna hitam memantulkan bayangan benda yang ada di atasnya. Kehadiran sebuah replika tetrapod (pemecah gelombang laut) di tengah ruang, membawa imajinasi kita tentang lantai ruangan sebagai permukaan air. Sebuah video yang ditembakkan pada salah satu dinding ruangan, perlahan membawa ingata kita pada bencana gempa dan tsunami Jepang yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Suasana tenang dan senyap pada ruangan, menyiratkan suasana pasca-bencana dan betapa dahsyatnya bencana –tetrapod dan berbagai macam benda yang berat dan besar pun bisa terbawa gelobang hingga terdampar di tempat yang jauh.

Gagasan tentang bencana, tegas muncul pada karya-karya dua dimensi Takashi. Keseluruhan menampilkan foto-foto yang masing-masing menampilkan lingkungan yang hancur berantakan lengkap dengan puing-puing bangunan serta pepohonan yang tumbang. Pada tiap foto –dengan mendrawing- Takashi menambahkan citra yang lain, seperti pepohonan, bunga, manusia. Hasilnya, beberapa foto seakan menyiratkan sebuah harapan akan lingkungan baru yang tumbuh (ada pepohonan, bunga, manusia) setelah bencana sementara beberapa foto lain menampilkan sosok manusia dengan kepala yang ditumbuhi tanaman atau pohon, seolah menyiratkan pada gagasan bahaya lain yang mengancam pasca terjadi bencana, salah satunya adalah bocornya reaktor nuklir yang memiliki potensi menghasilkan cacat dan mutasi bagi makhluk hidup di sekitar reaktor.

Pada ruangan terakhir, kita mendapati karya Underground Sound of Rain, berupa jalinan daun-daun yang menghampar  memenuhi ruangan. Hamparan daun-daun ini dipasang menggantung, sehingga nampak seperti melayang. Menikmati karya ini, kita cukup memasuki ruangan sembari merunduk-runduk mengikuti alur dari hamparan dedaunan yang menjadi atapnya –dan tentu saja juga berfoto sambil menyembulkan kepala di antara permukaan dedaunan. Kita seolah berada di tengah hutan yang rimbun dengan cahaya (dari lampu) yang menelusup di antara celah dedaunan dan jatuh di tanah (lantai). Pada beberapa bagian kita dapat menyembulkan kepala melalui lubang besar di antara dedaunan untuk melihat bagian atas permukaan daun yang tertimpa cahaya lampu. Perpaduan warna dedaunan (hijau, kuning, coklat) dengan cahaya lampu serta hamparan dedaunan yang disusun secara berirama dan dinamis (meliuk-liuk) sembari “melayang” membuat hal estetik sebagai unsur yang dominan dalam karya ini.

***

“Mengintip” karya-karya Takashi Kuribayashi dalam pameran tunggalnya kali ini, kita mendapati dua macam karya. Dan nampaknya karya-karya Takashi seperti Bird Cage, Faces atau Underground Sound of Rain –yang oleh kurator pameran Agung Hujatnika disebut sebagai karya ‘instalasi khas tapak’- boleh jadi memiliki daya tarik yang lebih kuat dibanding karya-karya dua dimensinya. Karya-karya tersebut tidak saja melibatkan cerapan visual kita, tapi juga berhasil menggugah pengalaman kita, baik psikologis maupun pengalaman secara fisik. Pengalaman-pengalaman ini, dimungkinkan juga muncul dari terciptanya “ keterlibatan” atau interaksi antara kita dengan karya (gestur tubuh, gerak, ekspresi wajah, dsb). Karya-karya ini mempertimbangkan kehadiran fisik apresiator –kita- sebagai hal yang penting dan memiliki peran untuk mencapai apa yang dituju oleh karya. Begitulah, kita tidak harus hanya berdiri terpaku sambil memandangi, untuk menghadapi karya-karya Takashi Kuribayashi kali ini…

 

-#######-

-danoeh tyas-

# tulisan ini dimuat di situs indonesiaartnews.or.id



Comments are closed.