Social Media

Karya Stryjek - dok-Galeri Soemardja

Memamerkan Gerak

July 8, 2013      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



 

Kalau saat-saat ini anda mampir ke Galeri Soemardja ITB, boleh jadi mata anda akan terhibur melihat karya-karya yang sedang dipamerkan di dalam galeri. Sekitar 11 karya akan anda jumpai terpajang di dalam ruang galeri. Itulah karya-karya yang ada dalam pameran Kinetikamekanika yang dibuka 13 Juni yang lalu. Pameran ini berlangsung  13 Juni – 31 Juni 2013.

 

Dalam sampul depan katalog pameran tertera bahwa pameran ini merupakan pameran seni kinetik –ini tentu saja menggambarkan secara umum karya-karya yang terdapat di dalamnya. Ada satu unsur yang terdapat dalam semua karya yang dipamerkan, unsur itu adalah gerak. Boleh jadi unsur gerak inilah yang bisa menghibur penglihatan apresiator –melalui gerak yang ritmis dan berirama. Unsur ini secara jelas membedakan karya-karya dalam pameran ini dengan karya-karya seni konvensional yang lumrah dan paling sering hadir dalam pameran-pameran seni rupa –sebutlah misalnya lukisan, drawing, patung. Meski pada dasarnya karya-karya yang ada dapat pula dikatakan sebagai patung yang diberi sistem kerja mekanik, sehingga dapat bergerak.

 

Sebagian besar karya-karya itu hadir dengan penggabungan beberapa medium sekaligus. Diantaranya ada kayu, logam, akrilik, keramik. Karya Edwin Rahardjo, Light Rhytm menghadirkan 10 pasang lempeng tembaga yang mengingatkan kita pada bentuk dan corak sayap kupu-kupu. Lempeng itu ditambatkan pada sebilah kayu berbentuk lonjong. Pada momen tertentu lempeng-lempeng itu akan serentak bergerak seperti kepakan sayap –namun lebih perlahan dan putus-putus. Tidak hanya logam dan kayu, karya ini juga menghadirkan unsur cahaya melalui sebatang neon yang dipasang di sisi belakang karya yang akan menyala ketika lempeng bergerak. Bentuk sayap dan gerak kepakan sayap juga hadir dalam karya Dragon Frrry (Septian Hariyoga) dan Myhts Chariot (Bob Potts). Karya Piotr, Stryjek menghadirkan susunan gir mesin logam yang berada dalam wadah akrilik transparan yang mengikuti bentuk susunan gir tersebut. Susunan Gir ini akan menggerakkan dua batang besi dengan pendulum diujungnya, sehingga pada saat tertentu kedua pendulum itu akan bertumbukan dan menimbulkan suara yang keras.

 

Beberapa karya mempertimbangkan kehadiran apresiator untuk bisa berfungsi. Sebutlah I Do Not Know, karya Bagus Pandega menghadirkan dua buah piringan hitam terpisah yang terdapat dalam kemasan akrilik hitam yang gelap. Piringan hitam akan berputar ketika kita berdiri di hadapan karya –ini tentu saja ulah dari sensor gerak. Sembari bergerak pada satu sudut terdapat lampu kecil yang menyala, sehingga kita dapat sekilas saja melihat gambar atau –lebih tepatnya- warna dari permukaan piringan hitam tersebut. Lain lagi dengan Little Bridge, karya Rudi Hendrianto, karya tersebut menjadi menarik, ketika karya lainnya mengaitkan gerak (kinetik) dengan kerja mesin listrik yang otomatis, karya ini justru mengharapkan unsur kinetik yang tercipta dari kerja manusia, dengan kata lain kerja manual. Karya itu menghadirkan susunan gir yang nampak rumit di bagian tengah, sementara pada kadua sisinya terdapat dua papan kayu yang dapat tertutup dan terbentang. Ini  bisa membawa asosiasi kita pada kerja jembatan di sungai yang bisa tertutup (terangkat) dan terbentang. Keseluruhan karya yang terbuat dari kayu membuatnya mencolok di antara karya lain, namun ini juga menimbulkan perkara. Medium kayu –pada karya Rudi- terutama pada bagian rantai-rantai, menimbulkan kesan ringkih dan rapuh yang bisa membuat apresiator ragu untuk memutar tuas untuk menggerakkan karya. Bila begitu, kita hanya akan menghadapi sebuah patung kayu berbentuk mesin atau sebuah replika mesin yang terbuat dari kayu.

 

Tiga karya nampak lebih menarik lagi. Amnesia Nation karya Heri Dono manghadirkan 20 tengkorak manusia yang disusun dalam 4 baris.  Ada kesan absurd melihat tengkorak-tengkorak dengan telinga yang besar serta hidung merah ala badut. Sisi absurd lainnya, karya ini menggabung tengkorak buatan dengan telinga besar yang terbuat dari tanah liat yang dibiarkan mentah (warna asli) berwarna kecoklatan. Karya ini juga menyertakan partisipasi apresiator untuk menekan tombol sehingga rahang bawah masing-masing tengkorak akan bergerak naik turun seperti layaknya orang tertawa. Karya ini menyiratkan sebuah lelucon yang sinis. Sementara sebuah karya Hardiman –yang sayang tidak tertera judulnya- menghadirkan sebuah koper, yang ketika dibuka pada bagian dalam atas (tutup) menampilkan sebuah lukisan berupa sekumpulan awan, sementara bagian bawah terdapat miniatur beberapa gedung yang terendam oleh genangan air berwarna hitam. Bila karya dinyalakan, genangan air akan bergolak dan mengeluarkan asap. Karya ini segera bisa menggugah ingatan kita tentang bencana lumpur porong Sidoarjo yang telah merendam banyak pemukiman dan masih berlanjut hingga sekarang. Topik bencana lumpur tersebut seakan menjadi sebuah oleh-oleh yang dibawa dari hasil perjalanan sang seniman keliling Indonesia (fungsi koper) atau Hardiman ingin membagikan cerita tentang bencana lumpur itu kepada banyak orang dengan membawanya di dalam koper.

 

Terakhir ada Conversation About Memories, karya Bagus Pandega. Menghadirkan 2 buah cangkir, teko dan wadah gula dan wadah untuk menuangkan gula. Kesemuanya terbuat dari keramik berwarna glasir putihbersih disusun di atas meja kaca berkaki kayu warna coklat. Keramik-keramik ini dapat berputar sembari diiringi dentingan lagu yang mangalun perlahan-lahan seperti halnya yang bisa kita jumpai pada sebuah kotak musik yang dibuka –yang seringkali dijadikan hadiah kenang-kenangan. Perpaduan kesemua unsur itu, bisa menggiring renungan kita pada suasana yang hening dan bayangan akan persoalan memori masa kecil atau persoalan keluarga. Ketiga karya itu tidak saja memberikan pada cerapan visual kita unsur gerak serta penggabungan berbagai medium tapi lebih dari itu unsur-unsur yang ada di dalamnya mampu menggugah permenungan kita kepada berbagai macam hal, bisa pengalaman pribadi ataupun berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.

 

Sebagaimana yang tertulis dalam katalog pameran, seni kinetik merupakan jenis seni yang masih jarang diperbincangkan dan dipamerkan secara khusus dalam seni rupa Indonesia. Karenanya pameran semacam ini patut diapresiasi. Selain itu pemeran ini setidaknya bisa memberi beberapa hal pada kita. Pertama memberikan pengalaman estetik yang lain bagi kita, di mana unsur rupa dapat juga berpadu dengan unsur gerak, cahaya dan suara. Kedua, karya-karya yang ada memperlihatkan bahwa kecenderungan karya seni hari-hari ini mampu mencapai kemungkinan-kemungkinan yang beragam dan unik, tidak hanya pada bahasa visual tapi juga penggunaan medium. Terakhir, melalui pameran kali ini, bisa dicatat bahwa kecenderungan karya seni hari-hari ini membuka kemungkinan adanya keterkaitan dan keterlibatan dengan bidang-bidang lain di luar seni, semisal: bidang teknologi, mesin maupun elektro. Karya seni rupa kini bisa menjadi sebuah proyek interdisiplin yang memanfaatkan berbagai bidang keilmuan.

 

Selanjutnya kita boleh berharap karya seni kinetik dapat makin berkembang di Indonesia yang bisa berimbas pada semakin seringnya pameran-pameran yang memamerkan karya-karya seni macam ini. Kita juga bisa berharap, nanti, karya-karya seni kinetik tidak saja hanya menghibur dan membuat kita takjub dengan unsur gerak –dan perpaduannya dengan unsur lain- serta kecanggihan (atau kerumitan) teknologi yang dimilikinya tapi juga -dengan gagasan yang dimilikinya- ia dapat menggugah pengalaman dan kesadaran kita tentang berbagai macam hal atau persoalan yang ada di sekeliling kita, yang ada dalam keseharian hidup kita….

 

-#######-

 

 

-danoeh tyas-

* tulisan ini dimuat di www.indonesiaartnews.or.id



Comments are closed.