Social Media

haryadi 1

Menikmati Selera Lokal Lewat yang Modern

June 3, 2013      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



Yang tercebur di antara minyak dan air…

Beberapa lukisan kaca terpajang di dinding. Lukisan-lukisan ini hadir dengan penggarapan warna-warni yang cerah dan pekat serta gradasi warna yang rapih (bertingkat-tingkat). Beberapa menampilkan tokoh wayang, binatang, buroq, huruf-huruf Arab dan yang khas –motif mega mendung (awan) dan wadasan (karang, batu). Tapi, tidak seperti lukisan kaca Cirebon umumnya yang menampilkan tokoh wayang –dipadukan dengan kaligrafi- atau adegan dari cerita wayang yang lazim, lukisan-lukisan ini nampak agak berbeda. Diantaranya adalah Surga dan Neraka, manampilkan beberapa sosok wayang dalam dua suasana. Di sisi atas horison, wayang-wayang nampak melayang dengan bunga-bunga bertebaran sementara di sisi bawah, sekelompok wayang tergelepar dengan perut yang tertusuk benda tajam, darah berceceran, api-api berkobaran serta sosok-sosok berwajah seram. Bisa segera diterka, inilah usaha menggambarkan –juga membandingkan- suasana antara surga (atas) dan neraka (bawah). Sepasang Pengantin menampilkan pasangan pengantin duduk bersila (patung loro blonyo) dikelilingi oleh citra-citra bayi, wajah manusia dan tapak tangan serta garis-garis meliuk menyerupai aksara. Citra tapak tangan ini mungkin membawa ingatan kita pada praktek meramal nasib dengan membaca tapak tangan. Di tangah masyarakat kita pun masih ada hitung-menghitung hari baik untuk menikah atau berhubungan dengan hari kelahiran.

Citra wajah manusia, tapak tangan dan aksara juga banyak kita jumpai pada bagian dinding yang lain.  Beberapa karya cetak cukilan kayu berwarna hitam-putih, selain menampilkan sosok manusia (dalam Wanita dan Adam Hawa) terdapat juga perpaduan citra manusia dan citra menyerupai aksara Arab atau Jawa- seperti dalam Potret Diri. Adapula sebuah lukisan akrilik dengan warna-warni cerah dan pekat menampilkan satu sosok manusia dengan badan yang dipenuhi citra-citra menyerupai aksara, melihat ini ingatan kita boleh jadi ditarik pada citraan tentang rajah (tato) atau isim (jimat).

Beberapa karya di atas adalah buah tangan dari Haryadi Suadi. Selain konsisten dengan teknik cukil kayu, apa yang kita temukan di atas adalah unsur-unsur yang seringkali disebut-sebut sebagai ciri khas dari karya-karyanya. Pada karya-karya Haryadi, kita bisa jadi segera meraskan kesan tradisi yang kuat. Tapi bila dicermati, kesan tradisi tidak penuh hadir, ada penggarapan-penggarapan yang berbeda –bahkan nylenèh- dari pakem-pakem karya tradisi umumnya. Hal ini memperlihatkan adanya daya imajinasi dan sudut pandang subjektif Haryadi sebagai seniman lulusan akademi seni rupa modern yang bekerja dengan teknik-teknik dan media seni modern –kanvas, mesin-mesin cetak, cat akrilik dan sebagainya. Bila mau, menengok  sebuah kutipan yang terpajang di dinding akan membantu kita menyusuri karya Haryadi Suadi;

“ Seni menurut saya seperti menyatukan Timur dan Barat, sama dengan menyatukan minyak dan air. Bagaimanapun juga bisa bersatu. Itulah yang saya cari hingga sekarang “ – Haryadi Suadi –

 

Yang bermain dan bertualang sembari berkelakar…

Masih di ruangan yang sama, kita menjumpai karya-karya yang lain dengan beragam teknik dan medium. Lukisan berlatar biru muda boleh jadi menarik amatan kita. Menampilkan citra gusi dan deretan gigi yang besar menyeringai di tengah bidang, di belakangnya persegi berwarna merah dipenuhi dengan barisan aksara kuno (Jawa..?) dan berkas-berkas cahaya matahari. Adapula citra kapal laut di bagian bawah. Warna-warni lukisan serta tekstur yang tebal –hingga menimbulkan relief- bisa memperkaya cerapan visual kita. Melihat citra gigi yang menyeringai mengingatkan kita pada poster di ruang dokter gigi, iklan atau kemasan pasta gigi. Lukisan ini memperlihatkan upaya untuk menggabung-gabungkan berbagai citraan dari berbagai sumber yang berbeda.t sutanto

Lain lagi dengan karya cetak saring berjudul Monalisa II (Over Smiling Monalisa), dominan warna hitam-putih karya ini menampilkan potret seorang perempuan melirik ke arah depan. Pada bagian samping wajahnya, ditimpa citra deretan gigi besar yang tersenyum. Potret sang perempuan dikelilingi oleh citra bingkai hitam penuh ukiran yang memberikan kesan anggun. Seketika, karya ini menyiratkan pada kita sebuah kelakar, apalagi bila kita mengingat lukisan Monalisa yang mahsyur itu terutama beserta mitos senyuman misteriusnya  yang terkenal. Kelakar lain juga terasa dan mengusik nalar –bila kita berusaha menggunakan nalar-  pada karya Wanita. Nalar kita boleh jadi segera terusik mencari hubungan antara perempuan dengan payudaradan perut yang besar (agaknya sedang hamil) dengan seekor tikus yang memandangi di atas pangkuannya –keduanya hadir dalam rupa siluet hitam.  Bolehlah kita berkelakar, mungkin seekor tikus akan heran atau takjub melihat proporsi badan perempuan yang sedang hamil dengan perutnya  yang besar dan menerka-nerka apa isi di dalam perutnya itu. Lalu, apa yang akan dikatakan nalar kita bila melihat siluet sebutir telur yang dilengkapi sekrup untuk diputar…? Adapula karya dengan teknik etsa. Pejalan Malam menampilkan suasana malam hari, di mana sebuah petromak dan sekumpulan menu makanan berada di atas meja yang tidak berkaki kayu namun memiliki kaki seperti manusia berjumlah tiga. Adapula Menerjang Angin, Meraih Mimpi,gambar seorang perempuan dengan rambut panjang, bertelanjang dada dengan tangan banyak sedang berdiri di atas motor gedè.

Inilah beberapa karya T. Sutanto. Karya-karya ini menunjukkan adanya dorongan bermain dan daya imajinatif yang lancar keluar dari sang seniman. Dan sepertinya kita pun didorong untuk cukup imajinatif dan bermain-main menghadapi karya-karya ini.Kita berhadapan dengan kesenangan dan kelakar yang mungkin menggoda selera humor kita. Selain itu, karya Sutanto kuat dengan bahasa ungkap yang naratif (bertutur). Bahasa-bahasa ungkap yang juga  bisa kita jumpai pada gambar anak, komik maupun film-film kartun. Diantara bahasa-bahasa tersebut misalnya jumlah tangan atau kaki yang banyak menyampaikan maksud sedang bergerak, berjalan atau berlari. Bentuk penggambaran ala wayang kulit, yang menampilkan sosok dengan badan tampak depan  namun wajah dan kaki nampak samping (mata dua, kaki dua menghadap depan) menunujukkan bentuk keseluruhan yang jelas -terjabarkan. Pembahasan mengenai bahasa-bahasa ungkap macam ini bisa kita jumpai pada  ‘teori bahasa rupa’ Primadi Tabrani misalnya. Menyempatkan menengok kutipan di dinding, bisa membantu kita memahami cara berpikir Sutanto dalam karya-karyanya;

“ Seni menurut saya seperti bermain dan bertualang. Lebih baik tidak berangkat dengan konsep yang matang tapi proses itu sendiri merupakan perjalanan konsep itu sekaligus. Jadi sejadinya “ –T. Sutanto-

 

Sedikit usaha menyimpulkan…

Demikianlah kita melihat karya-karya yang tersaji dalam pameran “Haryadi Suadi – T Sutanto Grafis, Lukisan, Gambar dan Arsip” yang dipemerkan di Galeri Soemardja, 7 – 24 Mei 2013. Dalam pameran ini, sekilas kita bisa melihat kemiripan antara karya Haryadi Suadi dan T.  Sutanto. Karya-karya keduanya memperlihatkan kesan imajinatif, bermain, eksploratif juga spontan. Bentuk-bentuk dan bahasa ungkap  yang muncul pada karya keduanya nampak naif, bebas serta terasa lancar mengalir dari sang seniman. Tapi ada pula perbedaan, pada karya Haryadi kita menangkap kesan mistis dan serius serta penggarapan karya yang konsisten sementara pada karya Sutanto kita disuguhi dengan kesan yang lebih “santai” penuh kelakar dan kita melihat beragam macam teknik dan medium karya.

Konsep pameran yang tidak hanya menampilkan karya “utama” kedua seniman, namun juga sketsa, koleksi pribadi, arsip-arsip dan sebagainya bisa jadi membantu kita memandang dengan lebih luas kedua seniman ini. Misalnya, bagaimana kedua seniman ini juga aktif membuat gambar kartun dan karikatur tentang fenomena sosial politik di media massa dan karya-karya mereka yang muncul di sampul buku maupun kalender, memperlihatkan pada kita aktifitas dan pergaulan Harydi Suadi dan T. Sutanto –sebagai seniman- yang luas dan beraneka ragam. Hal terakhir yang tak ketinggalan, melalui unsur-unsur dalam karya kedua seniman ini –tema, unsur rupa tradisi, ikon populer, lelucon, dan lain-lain- kita bisa menangkap sesuatu yang khas, yang terasa akrab dengan kita, sesuatu yang disebut oleh Priyanto Sunarto sebagai ‘selera lokal’…

 

-#######-

-danoeh tyas-



Comments are closed.