Social Media

rumah di atas bukit - moel s (katalog)

Tantangan Untuk Semangat Muda

April 27, 2013      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:




Ia adalah Moel Soenarko, seorang nenek yang baru saja berulang tahun ke 73 tahun. Jumat lalu –mungkin sekaligus merayakan ulang tahunnya- ia menggelar pameran tunggalnya di Galeri Wastu STDI (Sekolah Tinggi Desain Indonesia) Bandung. Pameran itu digelar dari tanggal 29 Maret – 12 April 2013. Pameran itu diberi judul “Aku dan Dunia”.

Pameran itu menampilkan sekitar 20-an lebih karya seni cetak grafis Bu Moel. Dua teknik seni grafis tampil sebagai cara Bu Moel membuat karya-karyanya, keduanya adalah teknik cukil kayu dan teknik etsa. Karya-karya cukil kayu seluruhnya tampil dengan sederhana, ukuran terbesar sekitar 55 x 61 cm dan tampil dengan warna hitam putih. Lihat, Nyanyian Sunyi, karya cukilan kayu 61 x 55 cm, menampilkan sosok perempuan dengan kepala yang miring direbahkan diatas tangan kanannya yang memegang sehelai kain –nampak seperti melamun. Di sekelilingnya tampil pemandangan rumah-rumah, bunga, pohon, kolam ikan  burung-burung yang terbang dan di kejauhan terlihat pegunungan dengan berkas cahaya matahari yang bersinar (berupa garis-garis berjajar). Seolah menampilkan suasana pagi yang cerah.

Menyabung Ayam, menampilkan dua ekor ayam jantan yang berhadapan, di bagian muka bidang gambar, keduanya digarap dengan bentuk dan garis yang dinamis. Pada bagian tengah nampak sekumpulan orang duduk dan berdiri menyaksikan kedua ayam yang beradu, beberapa memperlihatkan pakaian masyarakat di Bali. Sementara bagian latar dominan warna hitam, melalui garis-garis tipis kita menangkap kesan sepintas tentang bentuk atap rumah dan pepohonan. Adapula Rumah di Atas Bukit, manampilkan sebuah rumah kayu, dengan pekarangannya, sementara pada bagian latar nampak perbukitan serta siluet pepohonan dan burung-burung. Karya ini -tanpa menampilkan sosok manusia- benar-benar hanya menyajikan pada kita sebuah pemandangan dan memberikan gambaran suasana yang tenang.

Tapi Bu Moel tidak hanya menampilkan pemandangan keseharian dan yang tenang-tenang saja. Salah satu karya, Lubang Perlindungan menampilkan hal yang agak lain. Pada bagian tengah bidang gambar sekelompok orang berkumpul dalam sebuah goa atau tenda, nampaknya ini gambaran pemandangan di pinggir pantai (ada pohon kelapa dan jejeran perahu yang bersandar). Di kejauhan pada bagian atas bidang nampak sekumpulan siluet pesawat terbang. Pemandangan dalam karya ini, seperti mengesankan suasana peperangan dimana banyak pesawat tempur melintas di atas pemukiman. Apakah pemandangan ini pernah dihadapi langsung oleh Bu Moel…? Ataukah ia hanya meniru dari gambar lain yang sudah ada…? Menarik untuk bertanya seperti itu, melihat apa yang ditampilkan dalam karya ini cenderung berbeda dengan pemandangan dalam karya yang lain.

lobang perlindungan - moel s (katalog)


Ada  satu karya cukil yang berbeda. Emansipasi, tidak menampilkan pemandangan atau kegiatan. Seorang perempuan (memakai sanggul) berkebaya, duduk bersimpuh dengan kedua tangannya memegang wayang kulit. Wajahnya ditampilkan dengan warna putih serta mata melotot, mengesankan kesan seram dan janggal. Andaikan karya macam ini hadir lebih banyak lagi, akan lebih menarik. Karena karya ini memberikan pada kita lebih banyak simbol dan tanda juga pesan dan maksud yang tersirat.

Selain karya-karya cukil kayu, terdapat pula karya etsa Bu Moel. Selain Karimun Jawa dan Sungai Martapura –yang menampilkan pemandangan perkampungan nelayan- karya etsa lainnya tidak menampilkan pemandangan. Pada karya-karya macam Ke Pesta, Topeng, Seribu Wajah misalnya, kita tidak akan benar-benar dengan tegas dan jelas melihat citra-citra seperti yang tertera pada Judul. Kita hanya bisa menerka-nerka serta mencocok-cocokkan. Pada Topeng -karya berukuran 40 x 36 cm dan dominan berwarna hijau- misalnya, selain motif citra daun pada latar belakang, kita hanya melihat beberapa bidang yang dibiarkan berwarna putih yang secara garis besar mengingatkan pada stuktur bentuk manusia, bidang ini dibatasi dengan outline yang tebal sehingga tegas terbedakan dengan bagian sekelilingnya. Melihat karya-karya ini, tentu imajinasi kita tertuntun oleh judul, meski pada beberapa karya akan juga kesulitan menemukan apa yang tertera dalam judul karya. Pada karya-karya ini, sepertinya Bu Moel –dengan imajinasinya- meraba-raba dan menangkap bentuk benda / objek secara umum dari bentuk-bentuk yang sudah sangat terabstraksi tersebut, sehingga kemudian memungkinkan munculnya judul-judul seperti di atas.

topeng- moel s (katalog)Beberapa hal dominan bisa kita temukan dalam keseluruhan karya yang ada. Pertama, tentu saja ketertarikan Bu Moel pada pemandangan dan keseharian selalu hadir dalam karyanya, bahkan ini tidak juga hilang meskipun ia bekerja dengan bentuk-bentuk yang sudah terabstraksi. Lalu, kita juga berhadapan dengan banyak bentuk terabstraksi dan terpiuh (terdistorsi) yang mengesankan ekspresi subjektif dan kerja spontan. Terakhir, pada beberapa karya kita juga menemukan ketertarikan Bu Moel dalam menggarap detil dan bentuk dekoratif (motif batik, bentuk daun, bunga dsb).

Karya-karya Moel Soenarko kali ini menampilkan kesederhanaan pada kita, baik dari tema maupun objek yang dipilih. Tapi di luar kesedarhanaan karya tersebut, ada pula hal yang menarik bagi pikiran kita. Bagaimana seorang nenek 73 tahun, bekerja membuat karyanya dengan teknik seni grafis –yang membutuhkan berbagai tahap proses- dan memamerkan puluhan karyanya (setiap karya cukilnya dibuat dalam 100 edisi) tersebut pada sebuah pameran tunggal. Ya, di sini kita menjumpai sebuah energi dan semangat berkarya yang besar dari seorang seniman. Tentu, ini bisa dicontoh oleh para generasi muda, terutama para pegrafis muda untuk membuat karya-karya grafis sebanyak mungkin dan memamerkan karya-karyanya lebih sering lagi (di luar hajatan besar macam Trienal Seni Grafis), bahkan dalam sebuah pameran tunggal. Ya, kalau mau lebih profokatif, bolehlah pameran ini dianggap sebagai “tantangan” bagi para pegrafis muda, tantangan bagi produktifitas, gairah serta semangat dalam berkarya seni grafis –yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian itu. Dan adakah para pegrafis muda akan menyambut tantangan ini…? Ayo, ayo. Silahkan, silahkan…

 

-#######-

# tulisan ini dimuat di rubrik Khazanah Pikiran Rakyat



Comments are closed.