Social Media

Suasana pameran trienal grafis3 - (dok Michael Binuko)

Menjenguk Event Seni Grafis Tiga Tahunan

March 12, 2013      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



Akhirnya Pameran Trienal Seni Grafis 2012 tiba di Bandung sebagai persinggahan terakhirnya. Pameran khusus seni grafis ini singgah di Galeri Soermardja ITB dari tanggal dari tanggal 25 Februari – 12 Maret 2013, setelah sebelumnya berekeliling ke beberapa kota. Pameran ini menghadirkan 51 karya dari 41 pegrafis yang merupakan hasil seleksi dari 400-an karya yang terkumpul. Trienal Seni Grafis 2012 adalah  edisi keempat setelah pertama kali digelar pada tahun 2003 oleh Bentara Budaya.

Menjenguk kecenderungan dalam dominasi…

Melihat isi pameran, segera kita bisa menyaksikan sebuah dominasi, melalui hal teknik dan bahasa ungkap. Dominasi teknik muncul melalui teknik cukil (kayu dan lino), sekitar 30-an karya menggunakan teknik ini. Teknik ini dibuat di atas papan (triplek atau MDV) dan lembar karet (lino) yang dicukil sehingga menghasilkan ceruk, sehingga bagian yang utuhlah yang terkena cat dan tercetak, teknik ini sering juga dikategorikan ‘cetak tinggi (relief)’.

Melalui karya-karya teknik ini, kita bisa terbantu untuk melihat kecenderungan yang rampak. Diantaranya; teknik cukil nampaknya cenderung merangsang seniman membuat citra-citra manusia (juga binatang) dan menampilkannya pada gambaran adegan, peristiwa atau gambar suasana -kita menghadapi bahasa ungkap naratif (bertutur, bercerita) yang lugas. Tema keseharian banyak digarap dalam karya-karya ini, seperti kegiatan manusia atau –tentu- kritik sosial terhadap persoalan sehari-hari masyarakat kita. Rampak pula dijumpai penggunaan warna yang “miskin” dan cenderung redup pada karya-karya dari teknik ini. Kita juga melihat karya-karya yang hadir dengan ukuran yang relatif besar

Pada penggunaan teknik ini kita berhadapan dengan beberapa contoh, diantaranya; Mencari tempat Baru, berukuran 244 x 122 cm, menampilkan segerombol orang yang sedang berjalan, sambil menyandang gembolan, kasur dan beberapa lainnya. Pada latar tampak citra tank baja. Agaknya ini bercerita tentang para pengungsi korban perang. Adapula Disharmony, sosok berjas dengan kepala mesin backhoe, dengan latar belakang tiang pancang  baja dan pohon-pohon yang terpotong. Inilah gambaran tentang eksploitasi alam dan kapitalisme ekonomi nampaknya. Beberapa contoh lainnya; Masih Bisa, Dongeng Pengantar Pensiun, Merayakan seni grafis, Get Lucky juga Art, girl and murder.

Di tengah kecenderungan tersebut, karya Agung Prabowo tentu menarik perhatian. Nirbaya Jagratara, karya cukil lino berukuran 64 x 69 cm (Pemenang Ievent ini). Menampilkan seseorang bersayap yang memegang pedang dan membawa obor sambil menunggang kuda. Keduanya tampil seperti layaknya tubuh yang di-rontgen (sehinnga nampak kerangka tubuhnya). Berbeda dengan kebanyakan, karya cukil ini hadir dengan warna yang kaya (16 warna), flat,  serta cerah. Karya ini cenderung simbolis. Ukurannya yang kecil, menampilkan kesederhanaan pada kita. Usaha sang seniman yang patut diacungi jempol adalah penggunaan kertas buatan tangan, menyiratkan spirit kemandirian sang seniman dalam berkarya.

Si lain dan yang terselip…

Karya-karya hasil olah teknik etsa memperlihatkan penampakan yang berbeda. Teknik ini dilakukan dengan menoreh di atas permukaan plat (tembaga, seng dsb), kemudian memanfaatkan pengasaman. Bagian yang tertoreh yang akan tersisi tinta dan tercetak, ini termasuk ‘cetak dalam’.  Karya-karya ini hadir dengan ukuran yang relatif kecil, dan menghadirkan detil. Karya-karya ini cenderung hadir dengan bahasa simbolik yang sederhana dan mengakibatkan hadirnya bahasa ungkap yang lebih ‘liris’ –tidak lugas- membawa pengamat pada perenungan.

Liahatlah, Mengalir Dalam Senyap berukuran 20 x 25 cm, menampilkan citra pipa besi di antara semak belukar, dengan warna hitam putih. Goresan-goresan garis yang saling bertumpuk berhasil membangun kontras warna. Lain dari itu, Bahtera Alam Nuh, berukuran 71 x 50 cm. Menampilkan citra kapal layar, siluet manusia  juga menara dan bulan yang disusun saling bertumpuk dengan warna kecoklatan. Segera menggiring ingatan kita pada kisah Nabi Nuh dengan bahteranya.

Teknik lain yang “terselip” di antara kedua teknik di atas, diantaranya lithografi, teknik mencetak yang memindahkan gambar di atas batu (limestone) ke atas kertas. Untuk teknik ini hanya terdapat dua karya. Sementara teknik lainnya lagi; alugrafi dan cetak saring (sablon), juga tidak menghadirkan banyak karya.

Akhir kata, sedikit amatan…

Dalam sambutannya ketika membuka pameran ini, seniman AD Pirous nampaknya bersusah hati setelah melihat isi pameran ini. Sebabnya, pameran ini tidak terlalu berhasil menampilkan perkembangan dan potensi yang dimiliki seni grafis saat ini baik dalam soal teknik maupun tema karya.

Melalui pameran ini, kita bisa melihat bahwa teknik yang paling populer bagi para seniman grafis kita masihlah teknik cukil yang bahkan sudah digunakan oleh para pelopor seni grafis di Indonesia pada 1940-an. Kemudahan bahan dan teknik boleh jadi alasan. Namun kalau begitu, betapapun populer, mudahnya ketersediaan bahan dan alat,serta luasnya aplikasi teknik cetak saring (sablon) dalam keseharian masyarakat kita, nyatanya tidak membuat banyak karya seni grafis dari teknik ini yang turut dalam pameran kali ini (entah karena kualitas karya tidak memenuhi kriteria juri atau memang sedikitnya karya dengan teknik ini). Tentang lithografi, konon bahan hanya tersedia di seni rupa ITB. Maka, mau tidak mau kita hanya berharap pada orang-orang yang memiliki akses untuk ini, tiada lain mahasiswa atau alumni seni rupa (seni grafis) ITB untuk kemunculan karya-karya dengan teknik ini dalam berbagai event seni rupa.

Demikian kita telah melihat Trienal Grafis edisi keempat ini. Tentu kita –dan para seniman grafis- harus menunggu tiga tahun lagi untuk event berikutnya. Nanti, kita boleh berharap  melihat hal-hal lain lagi yang lebih dari apa yang hadir di hadapan kita saat ini. Semoga event ini dapat pula memicu munculnya event-event seni grafis lainnya. Sehingga karya-karya seni grafis dapat lebih sering hadir di hadapan kita, dan para seniman grafis dengan bersemangat terus mengeksplorasi, mencari, menampilkan dan mencintai seni grafisnya… Ya, semoga saja.

 

-danoeh tyas-



Comments are closed.