Social Media

Berusaha Menghayati Gambar Bertema - Kliping perpustakaan SR ITB

Cara Membuat dan Cara Mengapresiasi

March 6, 2013      Bulletin, Essays      Deca      no responses

Tagged with:



 

Pada beberapa bundelan berisi kliping-kliping tulisan lama di surat kabar, saya menemukan beberapa tulisan yan menarik perhatian. Tulisan-tulisan tersebut adalah artikel-artikel seni rupa yang membahas khusus hasil karya anak-anak usia sekolah. Artikel-artikel tersebut adalah bagian dari rubrik ‘PR-Cilik’ yang terbit di surat kabar Pikiran Rakyat. Artikel-artikel tersebut ada yang terbit sekitar akhir 1980an adapula yang terbit awal tahun 1990an.

Pada tulisan berjudul Mengenal Beberapa Cara Membuat Relief  itu, dijelaskan tentang yang disebut relief: “Karya seni relief ditinjau dari wujudnya dapat pula dipahami sebagai seni patung… penampilannya mirip seni lukis yakni sebagai karya yang keindahannya hanya dapat di lihat dari arah depan saja… jika kita raba pada bidang permukaan relief, terasa ada yang cekung dan ada yang menonjol”. Selanjutnya, diterangkan alat-alat yang digunakan: “… pakailah bahan tanah liat (lempung), sebab bahan ini sifatnya mudah dan luwes diolah reka bentuknya… alat pengukirnya yaitu berupa bilah bambu tipis sebesar pisau dapur dan usahakan tidak hanya satu. Bikinlah ada yang ujungnya runcing, ada yang tumpul (lengkung) ada pula yang tebal bergerigi…”.  Terakhir, dijelaskan cara membuatnya seperti: “… lempung yang disediakan berukuran 20 x 15 x 4 cm. Pertama kali aturlah pembikinan lempengnya, kalu sudah mulailah mengukir”!

Tulisan lainnya punya judul Cara Menggambar yang Baik Menggunakan Kertas Tembus Pandang, memaparkan cara menjiplak gambar dari sampul majalah, di sana tertulis: “Ini adalah salah satu cara yang dipilih terbaik, menghindari rasa kekecewaannya dari ketidak miripan yang digambar… ini dilakukan memakai kertas tipis atau jenis kertas tembus pandang”. Dijelaskan juga cirri-ciri kertas tersebut: “…warnanya putih buram, contohnya kertas dorslaag, kertas bungkus roti, kertas kalkir”. Tak ketinggalan cara membuatnya: “…kertas buram itu kemudian dapat ditegaskan dengan bolpen, rapido… akhirnya mendapatkan outline (garis pinggir rupa bentuk) yang menjadi pedoman gambaran”.

Sekedar contoh lain lagi, tulisan berjudul Seni Grafika, menjelaskan proses membuat karya seni grafis sederhana dengan bahan: kertas gambar atau kertas stensil, karton tebal, perekat, pinsil,  cairan pewarna (cat air, tinta, gincu), gunting dan silet. Sementara itu cara membuatnya:  1. Pada karton tebal buatlah gambar sesuka hati, misalnya buah-buahan, binatang… 2.Kerat dan guntinglah gambar tadi, kemudian tempelkan dengan perekat di atas karton pula, 3. Labur permukaan bentuk gambar itu dengan cairan pewarna, 4. Dalam keadaan basah tutup karton dengan kertas gambar dan tekan sampai rata, baru angkat dan keringkan, 5. Tinggal berikan pigura. Pada tulisan juga disertai contoh hasil karya.

Ketiga tulisan di atas, memberikan sekilas gambaran bagaimana mengajarkan seni rupa, tidak hanya menjadi bagian dari pendidikan di sekolah. Pihak lain juga bisa punya peran, termasuk media massa. Artikel surat kabar di atas, memperlihatkan adanya niatan dan upaya untuk mengajarkan seni rupa –terutama proses membuat- sejak dini kepada pembacanya yang anak-anak. Karenanya pemilihan teknik dan medium sangat sederhana, dan sangat mungkin diaplikasikan oleh para pembaca –yang anak-anak. Selain itu, melalui tulisan-tulisan tersebut juga diperkenalkan berbagai macam medium untuk berkreasi.

Rupanya tidak hanya masalah membuat (teknik) saja yang coba diajarkan melalui artikel-artikel lama itu. Ada hal lain yang saya temukan dalam artikel lainnya. Seperti pada tulisan Berusaha Menghayati Gambar Bertema, tertulis: “Bagus tidaknya terletak pada berbagai segi yang digambarkannya dan cara menyusun gambarnya…” Selanjutnya tertulis juga: “Keinginan mengetahui nilai keindahan karya gambar yang dibikin anak-anak, akan lebih tepat jika sebelumnya mengetahui lebih dulu pengalaman anak dan kepuasan menggambarnya…”  Sebagai contoh, dalam tulisan itu dibandingkan bagaimana tema tertib lalu-lintas dapat direspon dengan berbeda oleh anak yang tinggal di kota dan di desa. Bagi anak kota, kondisi lalu lintas mungkin sudah biasa, sementara bagai anak desa kondisi lalu-lintas bisa dianggap luar biasa ramainya. Perbedaan ini, akan berpengaruh pula pada hasil gambar mereka.

Tulisan terakhir itu (termasuk lewat judulnya) memperlihatkan bagaimana tidak melulu cara membuat suatu karya yang bisa diajarkan dan dituliskan, namun lain dari itu proses mengapresiasi atau usaha memahami karya yang dilihat pun bisa. Beberapa contoh tulisan di atas, boleh jadi merupakan suatu contoh yang menarik, terutama tentang bagaimana usaha seni rupa diperkenalkan dan diajarkan sejak dini. Dan ternyata, pada waktu-waktu itu, surat kabar punya peran untuk ikut serta melakukan hal tersebut.

Saat ini, jarang kita menemukan artikel-artikel semacam di atas. Usaha pengenalan seni rupa sejak dini memang ada, rubrik-rubrik khusus anak yang memuat karya-karya seni rupa masih muncul di beberapa surat kabar. Di sekolah, pelajaran kesenian dan keterampilan yang mengajarkan membuat berbagai aneka karya juga sepertinya masih ada. Tapi, diantara semuanya itu, dimana bisa didapat pengenalan dan pengajaran mengapresiasi karya seni rupa sejak dini…?

 

-danoeh tyas-

 



Comments are closed.