Social Media

menggambar dgn rasa seni

Kritik Seni yang Tersirat

February 27, 2013      Bulletin, Essays      Deca      no responses

Tagged with:



Judul tulisan itu Cara Menyusun Gambar dengan Rasa Hati Seni, di dalamnya terdapat paragraph berbunyi: “Karya lukisan ini dikerjakan pada kertas ukuran 14 x 19 cm, memakai media kuas dan cat air berwarna… Lima topeng disusun secara tak beraturan… Pelukisan topeng-topeng itu bervariasi watak mimiknya maupun warnanya, ada yang berwajah merah, ada kuning, hijau, coklat dan biru.” Di bagian lainnya, tertulis: “…tata cara penyusunannya rupa bentuk topeng-topeng pada latar kain belang-belang hitam-putih itu, sehingga membuat keindahan yang khas…” Di tengah-tengah tulisan, terdapat pula penjelasan: “… keindahan topeng Bali dengan ciri khas warnanya yakni cerah dan belang hitam-putih… Eloknya kesenian Bali itu terlukiskan di sini, seolah-olah menggemakan semangat hari proklamasi 17 Agustus. Serta mencintai kesenian daerah.” Tulisan itu diakhiri dengan sepotong kalimat: “Tata susun pelukisannya berhasil!”

 

Adapula tulisan lainnya berjudul Unsur Garis Membantu Menciptakan Suasana. Di sana bisa ditemukan tulisan: “Gambar Pemandangan Malam Hari ini berukuran 14 x 18 cm memakai media tinta (bak) di atas kertas…” Dilanjutkan dengan kalimat “Memang cukup sederhana, tapi hasil gambarnya, serta tata susunannya membentuk gambaran yang berhasil.” Pada paragraph berikutnya tertulis pula tulisan: “Garis yang digoreskan tipis, dan kadang-kadang menebal, kemudian membentuk gambaran pohon, cadas, lembah dan bukit. Permainan garis yang disusun secara berirama menebal menipis itu sungguh indah dalam tata warna yang khas malam hari, yakni hanya dilambangkan hitam dan putih saja sudah cukup.” Seolah belum cukup, dituliskan pula tulisan: “Gambar yang dilukiskan itu menggores hati, tepat keindahannya memuncak ketika rembulan purnama dan burung malam terbang lewat bulatannya…”

 

Satu lagi, tulisan dengan judul Paduan Warna-warna Sapuan Ekspresif. Pada paragraph akhir terdapat tulisan: “Lembar satu melukiskan pemandangan dipenuhi warna latar hijau kebiru-biruan, agaknya melukiskan malam hari, latar depan tampak padang rumput dan tiga rumpun bunga…”  Selanjutnya tertulis pula “…sapuan kuasnya kasar tapi justru memberi isi ekspresinya…” Di bagian akhir tertulis “…perahu itu dipulas dalam tata warna,ungu didampingi oker dan dilatari hijau muda mencolok mata…”

 

Tiga tulisan di atas adalah beberapa saja tulisan yang saya temukan secara tidak sengaja dalam bundelan-bundelan kliping lama berdebu yang menumpuk di rak perpustakaan kampus Seni Rupa ITB. Tulisan-tulisan di atas adalah artikel-artikel yang mengisi rubrik untuk anak-anak –pada beberapa tulisan saya temukan rubrik tersebut adalah rubrik ‘Percil’ Pikiran Rakyat. Dengan begitu bahasa penyampaian pun ditujukan untuk anak-anak, seperti penggunaan sapaan ‘adik’ dan –sang penulis- ‘kakak’. Selain itu, bahasa naratif sering ditemukan. Tulisan-tulisan di atas, merupakan artikel yang berisi pembahasan lukisan dan gambar hasil karya anak-anak sekolah.

 

unsur garis

Ada yang menarik bagi saya, isi tulisan di atas tidak sekedar membahas gambar begitu saja, bila dicermati, bisa ditemukan usaha mengaplikasikan metode “kritik seni” dalam pembahasannya. Kritik seni, dalam pembahasan karya seni rupa merupakan salah satu metode pembahasan karya seni rupa, dengan memanfaatkan langkah-langkah yang cenderung objektif. Usaha mengaplikasikan metode kritik seni dalam tulisan-tulisan di atas, dapat dikenali –secara tegas maupun samar-samar- melalui langkah-langkah yang digunakan dalam pembahasannya.

 

Salah satu yang dikenal dalam metode kritik seni adalah adanya penggunaan 4 langkah kerja dalam melakukan kritik. Langkah-langkah tersebut berurutan adalah deskripsi: upaya menjelaskan segala hal yang nampak secara visual pada karya (ukuran, medium, citra apa, warna apa dsb), analisis formal: upaya untuk menjelaskan kualitas berbagai unsur rupa yang  membentuk berbagai hal yang ada secara kasat mata pada karya (garis tegas/tipis, warna terang/redup, sapuan rata/kasar, dsb), interpretasi: upaya membaca/menafsir isi pesan yang coba disampaikan –seniman- melalui karya, penafsiran ini bisa juga berdasar pada teori-teori seni yang ada, terakhir evaluasi: upaya pemaparan argumen-argumen tentang kualitas atau tingkat keberhasilan karya –kelebihan dan kekurangannya, dalam pembahasan karya-karya seniman yang sudah mapan bisa juga dipaparkan posisi karya seninya di tengah-tengah medan seni rupa. Dalam penulisannya, keempat langkah tersebut tidak harus berurutan. Langkah-langkah ini yang biasa diajarkan dalam mata kuliah kritik seni di perguran-perguruan tinggi seni rupa.

 

sapuan warna2


Cukup menarik upaya menggunakan metode kritik seni dalam sebuah artikel yang ditujukan bagi anak-anak. Saya jadi bertanya, tujuan dan visi apa yang dibawa oleh Harian Pikiran Rakyat –atau tentunya si penulis- untuk rubrik ‘Percil” pada waktu itu (tulisan yang saya temukan berkisar tahun 1980an dan awal 1990an). Membandingkan rubrik yang sama saat ini, pemuatan hasil karya seni anak-anak memang masih ada (puisi, cerpen juga gambar), namun jarang dijumpai usaha untuk membahas karya-karya tersebut (sedikit pembahasan dilakukan untuk cerpen). Pembahasan semacam ini –sebagai bentuk apresiasi- boleh jadi bisa memotivasi para pembaca cilik itu, untuk terus berkarya dan juga mengirimkan hasil karyanya.

 

Upaya menggunakan metode kritik seni pada tulisan-tulisan  di atas, terasa bisa memperkaya dan meperluas pembahasan hasil karya anak-anak tersebut. Di samping itu, juga penyampaian pengetahuan bagi para pembaca cilik itu, misalnya bahwa garis, warna, bentuk bisa mempengaruhi kesan yang ditampilkan karya, atau dalam menggambar bisa digunakan simbol yang kaya dan yang penting bahwa dalam gambar-gambar tersebut terdapat ide-ide, pikiran-pikiran atau cerita yang ingin disampaikan. Pengetahuan macam ini –sepengalaman saya atau mungkin sampai saat ini- tidak tersampaikan dalam pelajaran seni rupa di sekolah. Sebagai pelajaran “pelengkap”, seni rupa seringkali hanya dianggap perkara teknis saja (lebih sempit lagi teknis menggambar saja), maka runyamlah murid-murid yang dianggap tidak bisa menggambar oleh gurunya. Adakah evaluasi bagaimana kekurangan atau kelebihan gambar-gambar tersebut oleh para guru…?

 

Terima kasih pada Kak Sapto, Kak Widady dan kakak-kakak lainnya (para penulis tulisan-tulisan artikel tersebut) atas tulisan-tulisan mereka yang memberikan pada saya temuan dan inspirasi yang menyenangkan…

 
 

-danoeh-



Comments are closed.