Social Media

99 variasi wajah - RE Hartanto - Katalog

Antara yang Tersirat dan yang Tandas

January 9, 2013      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



Dalam poster pameran itu tertulis judul “Mencari Saya dalam Sejarah Seni Rupa Saya” adakah kedua perupa yang wajahnya terpampang dalam poster sedang gelisah atau cemas mencari-cari jati dirinya…? Anda boleh-boleh saja berpikir-pikir demikan. Kedua perupa itu adalah R.E. Hartanto dan Aminudin Siregar dan judul dalam poster itu adalah judul pameran mereka yang digelar di Baletonggoh Selasar Sunaryo –dan merupakan program terakhir di tahun 2012. Pameran itu digelar 14 – 30 Desember 2012.

 

Untuk sekedar menyingkat, dalam tulisan ini saya akan menyebut kedua perupa itu dengan nama panggilan masing-masing –Tanto (untuk R.E. Hartanto) dan Ucok (untuk Aminudin Siregar). Sekitar 20-an judul karya ditampilkan oleh keduanya dalam pameran itu. Tanto tampil dengan sekitar 7 judul karya dan sisanya judul karya milik Ucok. Sebagian besar karya berwujud karya dwimatra.

 

Wajah putih dan mimik  wajah…

 

Variasi medium dapat ditemui pada karya-karya Tanto. Ada cetak digital, lukisan cat air sampai paku. Meski bervariasi dalam medium, tidak halnya dengan objek yang hadir dalam karya Tanto. Sebagian besar karya Tanto menampilkan objek figur manusia. Diantaranya Homunculus, tujuh buah foto yang masing-masing menampilkan sosok manusia yang nampak asing dan janggal, selain karena semua berwajah putih, aneka gestur yang nampak pun menjadi penyebabnya. Latar hitam pada masing-masing foto, membangun kesan sosok-sosok aneh ini berada dalam sebuah ruang antah berantah. Meski begitu, gestur dan mimik wajah memberi kita jalan untuk bisa menerka-nerka karakter dan sifat dari sosok-sosok itu.

 

Selain wajah putih, Tanto nampaknya juga tertarik pada mimik wajah. Pada 99 Wajah Variasi No.2 ada 99 foto yang menampilkan wajah orang-orang sedang menengok ke samping (kanan maupun kiri) dengan ekspresi dahi yang berkerut, mata yang menatap tajam dan mulut yang terkatup rapat. Kesemua foto disusun berjajar membentuk beberapa baris, sehingga wajah-wajah itu seolah saling menatap dengan penuh kecurigaan dan kesinisan. Beberapa wajah dengan mata yang melotot malah menghasilkan tatapan marah. Ada lagi Mimesis,  dua buah lukisan cat air di atas kertas berukuran 55×75 cm. Menampilkan dua wajah yang serupa melirik ke kiri dan ke kanan. Kedua kertas ini dipajang berdampingan, sehingga kedua orang dalam lukisan seakan saling melirik dengan ekspresi yang curiga, nampak cemas dengan penuh keragu-raguan. Penggarapan teknis cat air, memperkuat ekspresi wajah pada kedua gambar ini.

 

Satu lagi, sebuah karya Tanto yang berbeda dibanding karyanya yang lain adalah Les Chifres No.2.Pada karya ini, kita bisa menikmati irama juga perpaduan bayangan yang muncul ketika cahaya dari lampu sorot jatuh pada paku-paku yang ditancapkan pada dinding. Selain itu, kumpulan paku yang membentuk empat buah bilangan tahun: 1965, 1966, 2013 dan 2014, bisa manggiring kita pada ingatan dan juga imajinasi tentang  peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi pada tahun-tahun tersebut.

 

Kritik dan olok-olok…

 

Beralih pada karya-karya Ucok, kita berkesempatan menyaksikan karya-karya lamanya yang dibuat kisaran tahun 1997/1998-an. Karya-karya Ucok kali ini menampilkan teknis cat air dan etsa. Pada karya-karya lamanya, kita bisa segera menangkap garapan tema-tema kritik sosial yang merespon keadaan sosial politik pada tahun-tahun itu (1997/1998). Musim Kering Tahun 1997, Seratus Ribu Rupiah 1 dan Seratus Ribu Rupiah 2, menampilkan nuansa yang serupa. Dengan teknik etsa, ketiganya menampilkan sosok-sosok petani dan ibu tani bercaping atau berkopeah dengan ekspresi wajah yang sendu, sedih dan tubuh-tubuhnya digambarkan kurus kering. Kita melihat gambaran manusia yang menderita dan tak berdaya hidup tertindas.

Seri Reformasi - Aminudin S - Katalog

Kritik dalam karya-karya Ucok tidak saja hadir dengan penggambaran sosok-sosok yang menderita. Lain dari itu kita menjumpai kritik dalam olok-olok yang muncul melalui simbol-simbol. Lihat pada Seri Kepala Babi, lukisan cat air pada enam lembar kertas. Pada beberapa kertas, hadir sosok-sosok manusia berkepala babi ada yang telanjang dada ada yang dengan jas berdasi. Pada Seri Reformasi 1998, olok-olok hadir melalui gambaran sosok-sosok yang lebih kartunal dan simbol-simbol yang menghadirkan pemandangan absurd, konyol dan jenaka. Lihat misalnya bagaimana seorang yang memakai jas dan dasi dengan mulut disumpal ikan atau sosok orang bertangan panjang, dengan perut gendut, badan cebol dan hidung besar atau juga babi yang menyeringai. Penggarapan teknik cat air yang ekspresif dan cenderung kusam turut mendukung muncul nya kesan dan karakter pada karya.

 

Selain karya lama, beberapa karya terbaru Ucok juga ditampilkan. Ada Seri Ancaman dan Bahaya bagi Islam, 3 seri cat air di atas kertas, menampilkan objek Ka’bah dan ikan-ikan hiu yang mengelilinginya. Kita segera menemukan metafora dalam karya ini. Terakhir, Seri Seni Rupa idiot, digarap dengan campuran beberapa medium di atas kanvas 41×39 cm. Pada kanvas, nampak lukisan yang digarap menyerupai sampul buku lengkap dengan judul dan pengarangnya. Melalui sampul-sampul ini, kita sedang dihadapkan pada buku-buku seni rupa. Yang patut dicatat, dalam tiap judul tersebut tersemat kata “For Idiot…”. Bila sehari-hari kita menemukan buku dengan embel-embel judul “for beginners…” dan sebagainya, di mana kita bisa menemukan buku untuk para idiot…? Lagi-lagi kita bertemu dengan sebentuk olok-olok.

 

Yang tersirat dan yang tandas…

 

Sosok-sosok manusia pada karya Tanto menyiratkan bahwa yang diangkat dalam karyanya adalah persoalan-persoalan yang dekat dengan kehidupan kita -persoalan manusia. Persoalan bagaimana manusia saling memandang dan menilai satu sama lain, konflik personal (semacam kecemasan, ketakutan dan sebagainya) atau lainnya. Sosok-sosok ini boleh jadi adalah gambaran diri Tanto sendiri yang sedang menghadapi tegangan-tegangan dalam dirinya. Sebagian besar karya-karya Tanto hanya memberikan pada kita mimik (ekspresi wajah) dan gestur sebagai “modal” menerka-nerka isi karyanya, sementara pada karya lainnya kita hanya disuguhi angka-angka. Modal-modal ini membawa kita untuk dengan jeli bekerja lebih keras masuk lebih dalam menemukan makna-makna yang tersirat –masuk dalam perenungan.

 

Sementara itu, pada karya-karya Ucok kita berhadapan dengan suasana yang riuh dengan berbagai macam simbol dan metafor, tak jarang simbol-simbol yang ada juga umum digunakan dalam keseharian, karenanya kita segera bisa mengikuti dan menerka-nerka apa yang sebenarnya akan disampaikan dalam karya. Di sini kita disodorkan bahasa ungkap yang tandas, sembari sesekali tersenyum atau tertawa melihat olok-olok yang sekilas nampak kasar dan sinis. Melalui karya ini, boleh jadi kita sampai pada –apa yang ditulis Jakob Sumardjo dalam tulisannya “Tertawa” sebagai- “tertawa yang sempurna”, tertawa yang bisa membawa manusia pada kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sontoloyo, semprul dan tiada guna.

 

Melalui karya-karya Tanto dan Ucok, selain menghadapi bahasa ungkap dan karakter karya yang berbeda, kita juga bisa melihat ketertarikan akan persoalan yang berbeda pula. Persoalan yang digarap kedua perupa ini –terutama pada karya terbaru- sekaligus bisa memberikan gambaran pada kita tentang kecenderungan karya-karya seni rupa saat ini yang lebih cenderung asyik dan tertarik pada persoalan-persoalan personal seniman atau persoalan-persoalan seni rupa itu sendiri.

 

# Tulisan ini dimuat di rubrik Khazanah Pikiran Rakyat

 

-#######-

-danoeh tyas-



Comments are closed.