Social Media

It Just a Quarter - Maradita - Katalog

Mencari Benang Merah dari Tiga Ruang

January 3, 2013      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



Tanggal 15 Desember yang lalu, Galeri Gerilya kembali menggelar proyeknya. Kali ini, galeri yang terletak di pinggiran Jalan Raden Patah Bandung ini menggelar sebuah pameran tunggal seorang perupa perempuan. Adalah Maradita Sutantio si punya hajat. Sekitar 9 buah judul karya yang ditampilkannya dalam pameran kali ini, yang berlangsung 15 Desember – 23 Desember 2012 yang lalu.Karya-karya yang ada memberikan kesan pertama pada kita tentang si pembuatnya –yang perempuan. Medium benang, kain, juga bingkai sulaman punya peran memunculkan kesan tersebut.

 

Sebelum memasuki ruang pamer –jika cukup hirau- kita sudah berhadapan dengan sebuah karya. Tapi karya ini tidak dipajang pada dinding atau memiliki penampilan yang khas seperti karya-karya yang lain, karya ini bisa jadi ada di bawah kaki kita –terinjak. Itulah I am You, sebuah keset coklat dengan tulisan I am You berwarna hitam, tulisan itu adalah judul pameran Maradita kali ini. Karya ini menjadi penyambut bagi siapa saja yang akan memasuki ruang pamer.

 

1

Memasuki ruang pamer paling depan, It Just a Quarter menarik perhatian kita. Tujuh buah timbangan dijajar membentuk seperempat lingkaran di pojok ruangan, sementara satu timbangan lainnya ditaruh di tengah-tengah. Kesemua timbangan diletakkan di atas batako, sementara di atas tiap timbangan terdapat gumpalan benang merah basah dan dari sela-selanya tumbuh tunas-tunas tanaman. Jarum timbangan menunjukkan angka yang berbeda-beda menunjukkan beban yang disangga masing-masing timbangan. Menarik, karena timbangan ini seolah-olah mencatat berat tiap tanaman yang tumbuh di atasnya –meski beban terbesar tentu adalah air yang tersimpan pada gumpalan benang. Ini mengingatkan kita pada anak-anak balita yang selalu ditimbang badan dan diukur panjang tubuhnya secara berkala untuk memantau pertumbuhannya. Adakah Maradita juga dengan sabar, secara berkala selalu memantau pertumbuhan tiap tanaman yang ia tumbuhkan ini…?

 

Masih di ruangan yang sama, kita mendapati Connect The Dot – Pathway, karya yang menampilkan beberapa titik (paku) pada dinding yang dihubungkan satu sama lain dengan untaian benang. Maka pada dinding kita menyaksikan garis-garis tipis yang saling bertumpuk dan berpotongan. Meski kemudian garis-garis ini berperan sebagai blabar (outline), namun kita tidak bisa benar mengenali citra apa yang hadir di hadapan kita. Pada bagian tengah sebentuk bidang geometris dengan blabar berwarna merah yang saling berpotongan, hadir sebagai aksen dalam karya ini. Boleh jadi, bidang geometris ini adalah bagian penting dari karya, selain tentunya proses menghubungkan titik-titik yang terpisah dengan garis-garis benang. Begitulah, di ruangan pertama ini kita menghadapi dua karya yang berbeda satu sama lain, baik medium dan bentukannya.

 

2

Beranjak pada ruangan kedua, kita memasuki sebuah ruangan berdinding hitam, dengan lampu sorot dengan cahaya kuning. Maka kita mendapati suasana yang gelap serta remang-remang. Penataan cahaya yang sedikit dan masing-masing lampu hanya menyorot pada satu karya, memberi suasana yang dramatis dan khidmat. Selain itu cahaya lampu membantu kita untuk fokus memandangi tiap karya. Pada ruangan ini kita menjumpai Turn Back Time, sebuah lingkaran besar dari kayu. Pada bagian tengah –dengan ukuran yang cukup kecil- nampak jarum jam dengan warna putih dan merah terlihat menjadi titik sentral karya. Sejenis itu, ada Meditation Room, 24 buah lingkaran kayu menyerupai jam lengkap dengan jarum yang berputar, disusun rapi berjajar memenuhi dinding hitam. Pada tiap jam, jarum menunjukkan arah yang berbeda-beda dan pada beberapa jam terdapat untaian benang-benang merah yang terlihat mencolok dan menjadi aksen. Pada kedua karya ini, jam-jam yang ada, hadir tanpa angka-angka, sehingga membawa kita untuk berimajinasi dan membayangkan dalam angan-angan.

 

Ada dua karya lain dengan kecenderungan berbeda. Masih dengan lingkaran yang terbentuk dari bingkai sulaman, Free Fallmenampilkan untaian benang-benang merah di atas permukaan lempeng logam berwarna abu. Untaian benang-benang tersebut membentuk garis-garis lurus ke bawah, mengingatkan kita pada visual cairan yang jatuh meleleh dengan perlahan dan teratur. Sementara 64 Tetrahedron on Circle, memunculkan bentuk geometris di tengan bidang lingkaran kayu. Benang-benang merah digunakan menghubungkan antar titik. Pada beberapa perpotongan garis, tumpukan benang yang banyak menghasilkan visual titik yang seakan berpendar, kita bisa berimajinasi tentang gambaran sebuah rasi bintang.

 

Kehadiran karya, dinding hitam, serta cahaya yang remang-remang memberi kita pengalaman berada di sebuah ruangan yang terasing. Suasana yang hening, membuat kita dengan jelas mendengar detak jarum jam yang saling bersahutan. Mengisyaraktkan waktu yang selalu berjalan dan tak pernah putus untuk berhenti. Perpaduan semua unsur dalam ruangan inilah yang membawa kita pada aktivitas olah mental, terlibat dengan suasana ruangan dan masuk pada suasana liris –masuk pada imajinasi dan perenungan.

 

3

Sampai pada ruangan terakhir, kita disuguhi uang receh logam berserakan di lantai. Pada ruangan ini kita dipaksa untuk memandang ke atas pada video yang memperlihatkan permukaan air yang sesekali muncul koin-koin melayang-layang. Pada karya ini kita seolah-olah berada di dalam dasar sebuah kolam dan melihat ke atas menanti koin dilemparkan pada kita dari atas. Ini mengingatkan kita pada beberapa kepercayaan melempar koin ke dalam kolam atau sumur agar keinginan terkabul.

 

4

Melihat-lihat pameran tunggal Maradita kali ini, kita bisa menangkap usaha Maradita untuk merespon ruang galeri dengan membagi pamerannya ke dalam tiga ruangan. Dan bila itu benar, maka yang dihasilkan dari pembagian ini adalah tidak nampaknya kesatuan atau kesinambungan antar tiap ruang, terutama pada ruang terakhir, kita menyaksikan sebuah karya yang benar-benar berbeda dengan karya-karya lainnya, baik dari segi medium maupun penyajian. Pada dua ruangan lainnya, kesamaan medium masih bisa menghasilkan sedikit kesinambungan.Sementara dalam hal gagasan, yang kentara bisa kita temukan adalah persoalan waktu. Penggunaan jam serta kehadiran tunas tanaman yang sedang tumbuh bisa menunjukkan kehadiran persoalan itu.

 

Akhirnya, pada pameran ini kita melihat tiap ruangan berbicara persoalannya masing-masing. Dan dalam hal ini, karya-karya pada ruangan kedua, boleh jadi yang paling menarik dan berhasil dalam pameran ini. Selain memberikan pengalaman visual, karya ini juga memberikan pada kita pengalaman keterlibatan dengan suasana ruangan, pada karya ini, kehadiran kita menjadi penting. Begitulah, dalam pameran ini kita menemukan banyak benang-benang merah, tapi kita sulit menemukan “benang merah” yang menghubungkan antar tiap karya pada pameran ini.

 

 

-danoeh tyas-



Comments are closed.