Social Media

Bambang Bp di dekat karyanya - Foto (dok-Michael Binuko)

Tanah Becek dalam Goresan Pensil Bambang BP

December 26, 2012      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



Di atas tanah kita berpijak, sehari-hari kita hidup dan beraktifitas di atas tanah dan apa yang bisa kita dapat ketika melihat ke bawah, mengamati tanah…? Mungkin gagasan tentang pertanyaan tadi yang terselubung di balik karya-karya Bambang B.P, seorang perupa asal Kota Batu, Jawa Timur. Karya-karyanya itu kali ini dipamerkan pada pameran tunggalnya yang diberi judul “Topos/Chaos”, digelar di Bale Tonggoh Selasar Sunaryo 16 November – 2 Desember 2012.

Sekitar 13 karya –sebagian besar- berupa drawing pensil di atas kanvas dihadirkan Bambang. Dengan hanya berakrab pada pensil, maka karya-karya Bambang kali ini hadir dengan warna hitam-putih –juga abu. Citra tanah hadir pada seluruh karya Bambang kali ini, tapi tidak kesemuanya hadir dalam kecenderungan rupaan yang serupa. Kecenderungan pertama, tanah hadir berpadu dengan kehadiran alat-alat berat (backhoe) pada bidang gambar, seperti pada “Morning Mood” sebuah drawing pada kanvas berukuran 180 x 135 cm, nampak sebuah backhoe yang berlumuran tanah berada di tengah-tengah  hamparan tanah yang berantakan tak beraturan akibat digarap oleh alat tersebut. Masih pada ukuran yang sama, “The Swing Codence” nampaknya menghadirkan pemandangan yang sama dengan karya “Morning Mood”, dalam pengambilan sudut pandang yang lain.

Yang agak berbeda adalah “A Man-made Arrangement”, membagi bidang gambar menjadi dua: tanah dan langit, maka di kejauhan nampak horizon yang memberikan kesan jembar (luas). Hamparan tanah becek dengan ujung pengeruk backhoe menancap ke tanah pada ujung kanan bidang gambar. Pada langit yang gelap, hadir bentuk bulat yang bisa jadi menggugah ingatan kita akan bulan. Unsur-unsur ini menyebabkan kemunculan suasana pada karya, seperti: sunyi, tenang juga –melalui dominasi warna gelap- suasana dramatis. Kemunculan suasana pada karya  ini bisa jadi membawa kita pada keadaan liris. Ini yang membedakan karya ini dengan karya yang disebutkan sebelumnya.

Kecenderungan kedua pada karya-karya Bambang adalah seluruh bidang gambar dipenuhi oleh citraan permukaan tanah yang becek. Dalam kecenderungan ini diantaranya ada “Go Ahead”, drawing berukuran 120 x 100 cm dominan warna putih (terang). Menghadirkan permukaan tanah dengan bebatuan dan kerikil serta guratan-guratan garis. “Land Gesture” menghadirkan pengambilan sudut pandang dari jarak yang agak jauh, terlihat hamparan tanah dengan banyak genangan air dan beberapa lajur bergaris-garis. Bambang mencoba menunjukkan keberadaan objek lain selain tanah meski tidak menggambarkannya dan kita diajak menerka-nerka objek tersebut melalui guratan garis-garis pada tanah yang memberikan petunjuk pada kita sebagai sebuah jejak. Bukankah keberadaan sesuatu dapat diketahui tanpa harus melalui kemunculannya melainkan melalui jejak-jejak yang ia tinggalkan…?

Kecenderungan ketiga, pada kanvas, Bambang membiarkan bidang putih (putih kanvas) mendominasi. Sementara sebagian kecil bidang gambar ia menghadirkan citraan yang menampilkan pada kita tekstur (semu), bentuk-bentuk butiran, perpaduan warna gelap dan terang. Seperti pada “Sandblast”, secuil hamparan tanah serta kerikil dan remah-remah tanah, dominan warna gelap hadir di pojok kanan bawah bidang gambar mencoba mengimbangi bidang putih di sekitarnya. Adapula “Mud Enthusiasm”, 5 fragmen berjajar dari ukuran terkecil sampai terbesar, dengan kesan tekstur, pada beberapa muncul kesan cipratan maupun gosokkan.

Terakhir, dan satu-satunya, “Vertical Plane”, sebuah bidang 250×180 cm. Bambang menghadirkan hamparan tanah coklat asli di  atas papan yang ditambatkan pada dinding. Pada karya ini, kita berhadapan dengan permukaan tanah sebenarnya –yang terdiri dari butiran-butiran-, tekstur, warna juga melihat rinci dari batu dan kerikil, pendeknya pengalaman yang lebih kongkret. Meski begitu, apa yang hadir di hadapan kita, tidak sepenuhnya terasa alami, keberadaan beberapa tekstur dan batu bulat besar terasa sebagai kesengajaan -sesuatu yang dibuat. Di sini, nampak Bambang tidak sekedar menghadirkan tanah asli, tapi sekaligus ia juga menggubah (ini menunjukkan dorongan subjektif seniman untuk menghadirkan nilai estetik). Pada karya ini, 4 lubang berbentuk kotak sengaja dibiarkan. Lubang ini berhubungan dengan karya di seberangnya yaitu “Copy series”, 4 kanvas berukuran 30×40 cm, dengan citraan bertekstur di atas bidang abu. Segera bisa diterka, 4 kanvas ini adalah gambaran ulang dari bagian tanah yang hilang. Tapi warna abu-abu pada permukaan kanvas justru membuat goresan pensil menjadi saru (tersamar) dengan latar dan ini mengaburkan tangkapan visual kita tentang rinci dan bayangan tentang rupa tanah asli yang ditiru. Melalui karya ini, Bambang seakan memperlihatkan proses pembuatan seluruh karyanya pada kita, dimana ia mencuplik bagian dari permukaan tanah (memotret dengan kamera) dan menggambar ulang cuplikan tersebut dengan pensil.

Melihat karya-karya Bambang, boleh jadi gagasan kita digugah pada permasalahan pembangunan (ulah manusia) dan hubungannya dengan kerusakkan lingkungan. Perpaduan gambaran tanah yang becek, rusak, berlubang  juga mesin-mesin backhoe yang hadir dengan kuat –garis dan kontras warna yang tegas- serta jejak-jejak bannya yang tercetak pada permukaan tanah, semakin menguatkan kehadiran permasalahan di atas.  Selain gagasan tersebut, kita juga disuguhi penguasaan teknik yang baik pada Bambang melalui kecermatan meniru bentuk, membuat rinci, menghadirkan komposisi objek pada bidang gambar, serta menggarap lindap (peralihan gelap-terang) sehingga menghasilkan kontras warna, kesan kedalaman, tektur dan sebagainya.

Setelah dua hal di atas, kita boleh menunggu, bagaimana ke depan –bila ia masih tertarik menggambarkan tanah- Bambang B.P. dapat manggugah kita pada berancam kesadaran dan pemaknaan yang lebih dalam dari tanah, sesuatu yang sederhana dan sehari-hari kita pijak di bawah kaki kita …

 

# Tulisan ini dimuat di Rubrik Khazanah Pikiran Rakyat

 

-#######-

 

-danoeh tyas-



Comments are closed.