Social Media

Suasana Pameran Natas (dokumentasi - S14)

Landscape dalam Abstraksi Natas

November 22, 2012      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:




1

Karya dengan medium keramik memiliki resiko-resiko yang khas dan seringkali tak terduga dalam proses pembuatannya (terutama saat proses pembakaran). Retak, pecah, melenting adalah beberapa contoh resiko yang harus selalu siap dihadapi oleh para pembuat keramik. Dan resiko-resiko itulah yang menantang dan melatar belakangi Natas Setiabudhi membuat karya-karyanya dalam bentuk kubus. Sebuah tantangan, karena menurutnya (seperti tertulis dalam leaflet pameran) resiko-resiko di atas berpotensi lebih besar untuk terjadi pada bentuk-bentuk keramik yang berbidang dan bersudut.

Karya Natas pada dinding 1 (dokumentasi - S14)



Dan jawaban dari tantangan itu, diperlihatkan Natas melalui karya pada pameran tunggalnya di S14 (Jalan Sosiologi No. 14) yang berlangsung tanggal 17 Oktober – 7 November 2012. Pamerannya ini diberi judul “Landscape #2”. Meski merupakan karya keramik, karya Natas kali ini memilih berakrab dengan dinding (daripada diatas base). Karya-karya keramiknya berupa modul-modul berbentuk dasar kubus berwarna putih, berukuran kecil dan terdapat tiga macam modul. Pertama kubus dengan permukaan rata –disebut oleh Natas- sebagai modul netral. Kedua bentuk kubus dipadu dengan bentuk piramida yang menjorok ke dalam, sehingga pada tiap permukaan akan kubus akan terdapat cekungan berbentuk piramida, ini disebut modul negatif. Terakhir, bentuk kubus dipadukan dengan bentuk piramida yang menonjol ke luar pada permukaan kubus, inilah modul positif.

 

Karya Natas pada pameran kali ini, ditambatkan pada dinding sehingga menghadirkan sifat relief yang timbul. Pemasangan di dinding berpengaruh pada keleluasaan saat apresiator memasuki ruang pamer, mengingat ukuran ruang yang bisa disebut kecil. Karyanya terpajang pada dua dinding sisi ruangan yang saling berseberangan. Natas menyusun keramik-keramik kubusnya, dengan susunan baris dan kolom yang tertata rapi meski tidak bisa segera disusur apakah ada pola atau rumus yang dipakai dalam penyusunan karya tersebut. Pada dinding pertama, susunan yang ada terdiri dari perpaduan modul-modul netral dan negatif. Sementara pada dinding di sisi seberang, terdiri dari susunan perpaduan modul-modul netral dan positif. Selain jumlah modul, Natas juga bermain dengan jarak, tidak semua modul disusun rapat.

 

2

 

Gagasan pertama yang tergugah dalam kepala ketika melihat karya itu adalah bahwa susunan pada kedua dinding yang berseberangan itu sama, sehingga seandainya kedua dinding dirapatkan, tiap modul akan saling berhimpit, tonjolan piramida tepat masuk ke dalam cekungan piramida. Tapi, setelah diamati ternyata susunan pada tiap dinding –jumlah modul dan jaraknya- berbeda, sehingga gagasan pertama di atas gugur. Melihat dengan jarak agak jauh, sekilas ingatan kita akan dibawa pada permainan ‘tertris’, sebuah permainan yang mengharuskan pemain menyusun modul-modul kotak.

Karya Natas pada dinding 2 (dokumentasi - S14)

Selain gagasan yang bisa saja muncul di kepala kita, kita juga mendapat pengalaman melalui cerapan visual. Berhadapan dengan karya Natas kali ini, kita bisa menikmati bagaimana perpaduan bentuk kubus dan piramid (baik positif dan negatif), Tidak hanya bentuk pada tiap modul, tapi kita juga bisa menikmati bentuk secara keseluruhan yang terbangun dari kepaduan komposisi ukuran –dan jumlah susunan- modul, modul dengan dinding yang muncul dengan adanya jarak jeda antar tiap modul dan secara menyeluruh juga antara karya dengan ruangan. Adapula perpaduan warna antara putih mengkilap pada keramik, putih dinding yang pekat serta warna gelap (abu-abu) yang tebentuk dari cahaya lampu yang jatuh pada permukaan karya yang memiliki bermacam perbedaan ketinggian. Dengan begitu, sebenarnya yang paling utama dihasilkan karya Natas bagi pengalaman cerapan visual kita adalah perihal prinsip-prinsip formal karya seni rupa (komposisi, irama, keseimbangan dan sebagainya).

 

Tapi kita boleh saja penasaran dengan judul ‘landscape’ yang diberikan Natas bagi pamerannya kali ini. Bagi kita, ‘landscape’ sering diartikan dengan pemandangan alam, maka bila begitu bagaimana kita bisa menemukan pengertian itu pada karya Natas..? Dalam karya ini, kita melihat bentuk-bentuk geometris seperti kotak, segitiga, kubus atau prisma. Bentuk-bentuk ini memungkinkan membawa ingatan kita pada apa yang kita lihat pada peta. Dalam peta, kita melihat bentang alam (pemandangan) dalam simbol-simbol yang hadir dalam bentuk yang terabstraksi (gunung-segitiga, sungai-garis meliuk, kota-kotak, dan sebagainya). Tapi, pengalaman ini pun sebenarnya sudah sangat kabur pada karya Natas, karena pertama: kita hanya melihat dua bentuk utama kotak (kubus) dan segitiga (prisma), kedua: kita hanya melihat warna putih dan abu. Maka boleh jadi, sebenarnya yang bisa lebih terwakilkan muncul dalam karya Natas, justru adalah ‘pemandangan kota’ karena kita seakan melihat kumpulan-kumpulan bentuk kotak yang tersekat-sekat  oleh jarak, ini megingatkan pada kompleks gedung perkantoran, perumahan, serta jalan raya di perkotaan (bila kita melihat dari atas).

 

Akhirnya, yang utama, kita mendapat stimulus untuk menikmati ‘syair rupa’ (komposisi, irama, dan sebagainya) dalam karya Natas. Kalaupun karya ini memancing ingatan kita tentang pemandangan alam atau kota, kita hanya mendapatkannya secara terabstraksi. Bukantah dalam keseharian pun, ingatan tentang apa yang kita lihat atau alami dari kenyataan sehari-hari, seringkali muncul dalam bentuk sepotong-sepotong -yang terabstraksi dan terdistorsi- dan ia tak selalu bisa hadir seutuhnya…

 

-#######-

 

 

 

 

-danoeh tyas-



Comments are closed.