Social Media

foto para seniman yang terlibat (dokumentasi - Zico Albaiquni)

Angin Segar dari Gedung YPK Naripan

November 13, 2012      Bulletin, Essays      Deca      no responses

Tagged with:



 

Seniman membuka dapur

Ada perasaan ganjil, ketika di malam hari saya menemukan sebuah gedung di pinggiran jalan Kota Bandung, dengan pintunya yang dibiarkan terbuka lebar mempersilakan siapa saja masuk berkunjung  ke dalam dan apa yang  ditemukan di dalam adalah aktifitas sekelompok orang yang sedang melukis, menggambar, membuat kumpulan barang-barang selain ada yang sekedar sedang ngobrol-ngobrol sembari menghisap rokok atau menyeruput kopi. Itulah rasa ganjil saya dapat ketika mampir ke Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Jalan Naripan beberapa hari yang lalu.

Segera bisa diterka, kumpulan orang-orang yang sedang beraktifitas di dalam gedung itu adalah para seniman (perupa). Memang begitu adanya, mereka adalah para seniman Bandung dari berbagai latar belakang yang berkumpul dan berproses membuat karya bersama selama hampir satu bulan di Gedung YPK. Mereka terdiri dari para seniman akademisi dari berbagai perguruan tinggi seni di Bandung, seniman sanggar juga seniman otodidak.

Rasa ganjil melihat pemandangan macam itu lumrah muncul, mengingat di Indonesia kegiatan macam itu jarang dan bukan sebuah kebiasaan yang dilakukan para seniman, terutama di jaman sekarang. Berbeda misalnya di Eropa atau Amerika, dimana seniman seringkali pada saat tertentu membuka studio kerjanya bagi khalayak. Kegiatan macam ini tentu memberi konsekuensi pada diri seniman, misalnya: segala “proses dapur” seniman –yang selama ini menjadi rahasia dan ruang privat seniman sendiri- menjadi terbuka bagi khalayak. Selain itu, seniman juga harus bersiap menerima dan menjawab berbagai macam pertanyaan yang sangat mungkin tidak terduga –mengingat sangat mungkin orang yang datang memiliki berbagai macam latar belakang, hal lain lagi, seniman juga harus siap menerima kritik dan masukkan ketika karyanya belum jadi dan masih dalam proses. Dan untuk itu, mungkin dibutuhkan juga kebesaran hati, ketika seniman memutuskan untuk membuka studio kerjanya bagi kunjungan khalayak.

 

Mengumpulkan dan memamerkan semangat

Pada tanggal 20 Oktober 2012 lalu, di Gedung YPK Naripan karya-karya para seniman itu resmi dipamerkan kepada khalayak. Pada pameran ini, nampaknya ruang sudah ditata terlebih dahulu dan nampak lebih rapi dan teratur dibanding saat para seniman masih berproses di hari-hari sebelumnya. Aneka rancam rupaan karya serta tema yang dikerjakan para seniman yang dipamerkan, meski terbanyak adalah karya dwimatra seperti lukisan dan drawing. Dapat dijumpai pula aneka teknik pengerjaan karya.

Ada lukisan-lukisan dengan sapuan bertenaga dan memperlihatkan emosi, deretan lukisan cat air di kertas menampilkan sapuan, bercak warna-warni juga sesekali nampak abstraksi bentuk manusia dan benda-benda. Ada lagi drawing pensil yang dengan tenang dan sederhana menggambarkan potret wajah bermacam orang dari berbagai sudut pandang juga drawing yang mengesankan ketekunan  kerja seniman, menggambarkan sosok manusia dengan lindap yang kontras terwujud dari titik-tiik tinta. Lukisan yang tak melukiskan suatu benda (objek) juga ada, ia hanya menampilkan bentuk-bentuk persegi panjang yang bertumpuk. Kesan tradisi juga tak ketinggalan muncul melalui lukisan-lukisan dekoratif yang menampilkan abstraksi bentuk-bentuk binatang. Yang lain, lukisan-lukisan yang menampilkan tokoh-tokoh wayang golek juga topeng-topeng tradisi dan adapula lukisan yang menghadirkan kalimat-kalimat yang terdiri dari aksara-aksara kuno.

Yang menarik, di ruang depan dua karya instalasi bersanding. Ada sebuah karya yang tersusun dari berbagai benda-benda yang terbuat dari kayu dan bamboo. Di sekelilingnya ditaburi bubuk kopi yang digambari dengan jari berbagai macam simbol-simbol. Konon karya ini memiliki fungsi ritual. Di sebelahnya, bentuk menyerupai sebuah bilik berdinding seng dan kardus-kardus. Karya ini penuh sesak dengan barang-barang yang dipungut dari keseharian, berbagai macam barang elektronik, barang-barang plastik sampai kemasan-kemasan aneka produk. Keduanya, menyela pikiran kita dengan gagasan  tentang paradoks, yang alami dan yang buatan, yang tradisi dan yang modern atau juga yang sakral dan yang profan.

Melihat keberagaman yang ada, apresiator tentu akan kesulitan menerka apalagi menemukan alur dan arah gagasan (tema) yang diusung pameran ini. Maka, yang lebih mudah ditemukan dari pameran ini adalah semangat (spirit) dan gairah para seniman untuk berkumpul, berkarya dan melakukan kerja bersama dalam merespon ruang yang ada.

 

Menghidupkan dan menggairahkan kembali

Gedung YPK nampaknya memiliki ikatan emosional bagi beberapa seniman yang saya temui. Setidaknya itu yang tergambar dari cerita beberapa seniman yang terlibat dalam kegiatan di Gedung YPK beberapa waktu lalu itu. Beberapa seniman, diantaranya Tisna Sanjaya, Isa Perkasa dan Aming D. Rahman membagikan cerita yang hampir sama tentang peran dan fungsi Gedung YPK di masa-masa 80an sampai pertengahan 90an, dimana Gedung YPK menjadi tempat berkumpulnya para budayawan dan seniman di Bandung dengan berbagai latar belakang keseniannya. Dengan begitu, memungkinkan terjadinya berbagai aktifitas kreatif (kesenian) di dalamnya, seperti pameran seni rupa, pagelaran musik dan sebaginya. Singkat kata Gedung YPK yang hidup dan produktif.

Kondisi yang tergambar dari cerita di atas tentu berbeda dengan yang ditemukan pada Gedung YPK beberapa tahun belakangan. Tak sering kita jumpai kegiatan yang berlangsung. Pameran seni rupa mungkin sesekali digelar, tapi kegiatan pameran atau lainnya tidak menjadi suatu program yang rutin dan kontinyu. Memang, di gedung (ruang) bagian samping masih bisa sering dijumpai pagelaran kesenian seperti wayang golek, tari atau pencak silat tapi tidak demikian dengan gedung utama yang justru mudah terlihat dari jalanan (dekat dari jangkauan khalayak).

Bisa jadi, saat ini angin segar sedang berhembus, ketika para seniman mendapat akses yang lebih leluasa untuk membuat acara dan memanfaatkan gedung ini. Harapannya, setelah kegiatan kemarin, segera menyusul kegiatan-kegiatan berikutnya yang di gelar di Gedung YPK. Selain kegiatan, tentu –bisa dicatat- dibutuhkan penunjang lain, diantaranya tentu dibutuhkan pengelolaan YPK yang lebih serius dan terarah serta diisi oleh orang-orang yang paham pada bidangnya (terutama kebudayaan dan kesenian) serta memiliki kecintaan terhadap pekerjaannya. Berikutnya, secara fisik Gedung YPK butuh berbenah agar ia menjadi ruang yang lebih representatif bagi berbagai kegiatan yang akan diadakan di dalamnya. Saya ambil contoh, misalnya untuk kegiatan pameran seni rupa tentu dibutuhkan fasilitas pen-display-an karya, tata cahaya yang lebih spesifik baik jenis lampu dan arah datang cahaya, selain itu masalah dinding –yang saat ini nampak kusam dan kotor- juga akan sangat berpengaruh pada kehadiran karya di ruang pamer. Terakhir tak kalah penting adalah dibutuhkan sosialisasi kepada khalayak (perorangan atau komunitas) di Bandung, bahwa gedung YPK memang terbuka dan bisa diakses sebagai ruang berkegiatan dan berekspresi. Melihat dari kegiatan para seniman kemarin, dimana sebagian besar diisi oleh para seniman senior, ada baiknya juga bila sosialisasi dilakukan kepada seniman-seniman generasi muda. Mengingat generasi muda ini tentu lebih berjarak dan tidak terlalu mengenal Gedung YPK sebagai sebuah ruang yang bisa dipakai untuk memamerkan karya-karya mereka dan kegiatan berkesenian lainnya, apalagi generasi muda ini tentu punya potensi dalam hal ide, kreatifitas, semangat dan produktifitas yang masih besar dan bisa banyak digali. Dan kita tau, di Bandung ruang pamer bagi karya seni rupa masih bisa dihitung jari jumlahnya.

Demikian saja tulisan saya, semoga  selanjutnya Gedung YPK ini akan hidup dan produktif dengan berbagai kegiatan kesenian di dalamnya. Sehingga ia dapat berperan sebagai ruang untuk mendekatkan kesenian dangan masyarakatnya. Dengan begitu ia akan bisa semakin bernilai bagi masyarakat.

 

-danoeh tyas-



Comments are closed.