Social Media

Foto5 - dokumentasi KMSR ITB

Coret-moret di atas Layang-layang

November 1, 2012      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



Layang-layangmu melayang ke mana…?

 “ Layang-layang itu melayang, tapi tidak ke langit, ia hanya sampai ke langit-langit…”

 

Kira-kira begitu, kalimat yang saya dengar dari seorang kawan atau “adik” (karena usianya lebih muda dan lebih belakangan masuk kampus Seni Rupa ITB) ketika ia menceritakan latar belakang sebuah proyek yang akan dikerjakan bersama teman-temannya. Kalimat itu lahir setelah ada sebuah pengalaman yang menarik perhatiannya ketika melihat anak-anak yang bermain layang-layang di bawah Jalan Layang Pasupati yang terkenal di Bandung itu.  Apa sebab ia tertarik…?

Anak-anak itu terlihat asyik dan menikmati bermain layang-layang, meskipun ketika layang-layang diterbangkan, ia segera membentur bagian bawah Pasupati dan kemudian jatuh, begitu seterusnya berulang-ulang. Dari situ, ada pertanyaan yang terlintas di pikiran kawan itu, “Apakah mengasyikkan bermain layang-layang yang tidak bisa terbang ke langit…?

Pertanyaan yang boleh jadi masuk akal, mengingat sejak dulu hingga sekarang sebagian besar anak-anak memang bermain layang-layang dengan cara menerbangkannya tinggi ke langit. Bukankah bagian yang menyenangkan dari bermain layang-layang adalah ketika menerbangkan layang-layang dan mengendalikannnya lalu “mengadunya” ketika di langit atau juga mengejar layang-layang yang putus dan terombang-ambing tertiup angin…?

 

Melukis di atas layang-layang…

Dengan latar belakang di atas, bersama mahasiswa Seni rupa ITB lainnya, kawan itu membuat sebuah proyek berupa melukis bersama-sama di atas layang-layang, diadakan Minggu 16 September 2012 yang lalu, di sebuah tanah lapang kecil di bawah Pasupati. Acara ini diikuti oleh anak-anak usia taman kanak-kanak sampai sekolah dasar. Dalam proyek ini, para mahasiswa itu mengajak anak-anak dari Kampung Kebon Kembang (sebuah pemukiman di sekitar Pasupati) untuk melukis di atas layang-layang.  Anak-anak ini dibagi dalam beberapa kelompok, dengan masing-masing kelompok didampingi dua sampai tiga pembimbing yang berasal dari mahasiswa.

Yang menarik, anak-anak ini tidak langsung melukis di atas layang-layang. Sebelumnya, anak-anak ini diajak berkeliling kampung tempat mereka tinggal, sambil diajak berdialog dan berinteraksi dengan para pembimbing kelompoknya. Cara ini dimaksudkan untuk mengajak anak-anak itu semakin mengenal lingkungan sekitar tempat mereka hidup sehari-hari. Boleh jadi, tidak hanya mengenal, tapi juga menemukan berbagai macam hal yang ada di sekitar mereka yang mungkin terlewat dalam keseharian.

Setelah berkeliling, barulah anak-anak itu diajak untuk mulai melukis di atas layang-layang. Dalam melukis, para pembimbing hanya memberikan satu batasan, yaitu melukis tentang mimpi atau cita-cita. Dari metode yang ada, yang dituju sebenarnya adalah bagaimana anak-anak dari Kampung Kebon Kembang itu melukis di atas layang-layang berbagai macam gagasan yang mereka dapat (atau dikombinasikan) dari hasil berkeliling kampung dan berdialog dengan para pembimbing. Dengan begitu mimpi dan cita-cita yang dimaksud boleh jadi tidak hanya keinginan akan menjadi apa ketika mereka besar nanti, tapi juga berhubungan dengan bagaimana bayangan atau apa yang diinginkan oleh anak-anak itu tentang kampung tempat mereka tinggal.

 

Keterlibatan dan penyadaran

Kegiatan macam di atas, juga sudah pernah dilakukan, diantaranya juga dilakukan di dunia seni rupa sebagai proyek kreatif (kesenian) seniman. Di seni rupa Indonesia, salah satu yang diingat banyak orang adalah apa yang dilakukan oleh Mulyono, seorang seniman Indonesia lulusan ISI Jogjakarta. Dalam proyek keseniannya yang dilakukan di beberapa desa di Jawa Timur itu, Mulyono memberikan pelajaran menggambar (dan seni rupa lainnya) kepada anak-anak warga desa tersebut. Tema-tema yang digambar oleh anak-anak itu terdiri dari berbagai macam hal, namun kesemuanya berhubungan dangan apa yang mereka lihat dan alami sehari-hari di sekeliling mereka. Hasil gambar anak-anak ini juga sempat dipamerkan keliling.

Dalam proyek seni Mulyono, sebagai contoh, bisa dilihat bahwa seniman tidak bekerja sendiri, namun ia juga mengajak dan berbaur dengan masyarakat. Masyarakat diajak untuk aktif berpartisipasi dalam pengerjaan karya seni. Anak-anak dalam proyek Mulyono bisa dilihat juga sebagai subyek kreatif (yang membuat karya). Dengan cara seperti itu proses pengerjaan karya (juga keterlibatan masyarakat) diposisikan sebagai upaya untuk menggugah kesadaran masyarakat (sosial) terhadap berbagai hal yang terjadi di sekelilingnya. Oleh karena itu, untuk proyeknya itu, Mulyono menyebutnya dengan ‘seni rupa penyadaran’, ada pula orang menyebut proyek macam ini sebagai ‘seni rupa keterlibatan’. Di sisi lain, proyek seni Mulyono ini juga bisa dilihat sebagai bentuk metode pendidikan di luar jalur pendidikan formal.

 

Mengamati, mengalami dan belajar

 Kembali kepada proyek yang dilakukan oleh kawan saya dan teman-temannya, tentu proyek itu bisa berarti. Pertama, bagi para mahasiswa yang mengerjakan proyek itu, mereka mendapat pengalaman berharga untuk bisa mencoba mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat di kampusnya langsung di lapangan, bahkan berhadapan langsung dengan masyarakatnya, selain mereka tentu juga bisa belajar banyak dari lingkungan sekitar mereka. Kedua, bagi anak-anak yang melukis layang-layang, boleh jadi mereka mendapat pengalaman yang tidak sering mereka dapat. Pengalaman untuk bebas menuangkan gagasan mereka dengan warna-warni cat di atas layang-layang dan melihat karya mereka dipajang serta diperlihatkan pada orang banyak, tentu ini pengalaman yang jarang untuk mereka.  Tentu akan lebih berarti lagi bila proyek ini dapat memberi dampak terhadap anak-anak itu, misalnya tumbuhnya kesadaran pada anak-anak itu tentang berbagai masalah yang ada di lingkungan tempat mereka tinggal. Dan untuk sampai pada titik tersebut, tentunya proyek-proyek macam ini harus dilakukan secara berkelanjutan.

Menarik melihat dari proses berkeliling kampung yang dilakukan oleh para mahasiswa dan anak-anak sebelum memuliai melukis, proyek-proyek macam ini bisa dilihat sebagai sebuah metode belajar., di mana anak-anak juga para mahasiswa itu bisa menemukan berbagai permasalahan atau bahkan jawaban-jawaban dari lingkungan sekitar, tempat mereka hidup sehari-hari. Dengan kata lain, belajar dengan terjun langsung, mengalami dan terlibat di tengah-tengah lingkungan dan masyarakat. Saya jadi ingat salah satu pepatah lama Jawa, “ngelmu iku, kalakone kanti laku…” (ilmu itu terwujud dari laku). Dan apa yang didapat dengan cara belajar macam itu, boleh jadi tidak akan didapat dengan hanya membaca dan mendengar teori-teori dan penjelasan-penjelasan di dalam ruang kelas sekolah maupun kampus. Mungkin ada baiknya, jika teori harus terus dihadapkan langsung pada kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mungkin dengan begitu ia bisa teruji dan benar-benar berfungsi…

-#######-

-danoeh tyas-

 

* tulisan ini dimuat di www.indonesiaartnews.or.id



Comments are closed.