Social Media

Dok. Wahana Extranoema

Sedikit Catatan tentang Wahana Extranoema

October 30, 2012      Bulletin, Reviews      madyn      no responses

Tagged with:



Wahana extranoema dilaksanakan pada 23 oktober kemarin, bertempat di Padi Artground Jl. Dago 329. Dengan tajuk “Pameran sebagai sebuah performans,” format Wahana Extranoema memang cukup berbeda dengan pameran-pameran pada umumnya di Bandung akhir-akhir ini. Sebelum memasuki ruang pamer, saya disambut oleh dua orang, satu orang memberi cap bertuliskan ‘extranoema’ di tangan saya dan satu orang lainnya menyalakan mesin pembuat asap. Belakangan saya baru tahu kalau asap tersebut adalah disinfektan sekaligus merupakan sebuah karya. Setelah memasuki pintu, ternyata ruang Galeri Padi telah diubah menjadi sebuah labirin yang terbuat papan tripleks. Selanjutnya pengunjung bebas berjalan menyusuri labirin buatan ini sesuai kemauan mereka.

Persis di depan pintu masuk, terdapat tumpahan cat berbagai warna, sehingga setiap pengunjung yang masuk harus menginjaknya dan meninggalkan jejak kaki berwarna-warni di sepanjang ruang pamer. Selanjutnya, ada sebuah layar yang menangkap gambar pengunjung yang lewat, hanya saja kepala setiap pengunjung yang terlihat di layar ditumpuk dengan gambar objek lain. Di ruangan lain, terdapat sebuah proyektor mengarah ke dinding yang mengeluarkan gambar tetesan-tetesan air seperti hujan dan dengan memanfaatkan kinect, menangkap siluet badan pengunjung yang berdiri di depannya. Di situ pengunjung dapat ‘bermain’ dengan menepuk tangan untuk memecahkan gambar tetesan air tersebut. Di ruangan lain terdapat juga sebuah tulisan “Go Fuck Yourself” yang akan terbaca apabila lampu ruangan dipadamkan. Berlanjut ke karya lain, yaitu dua buah patung kepala dan beberapa batang lilin. Pengunjung diminta untuk memilih antara lilin merah atau lilin hitam yang berbentuk penis, kemudian menyalakannya dan meletakkannya di atas atau di depan kepala patung tersebut. Di pojok ruangan lainnya, terdapat sebuah cermin dengan banyak lampu di sekelilingnya seperti yang ada di meja rias, dan apabila ada pengunjung yang berdiri bercermin di depannya, tiba-tiba muncul suara-suara dari balik labirin yang menggoda pengunjung sehingga mungkin akan membuat pengunjung tersebut tersipu malu. Terakhir sebelum pengunjung keluar dari labirin, terdapat karya berupa rak kayu berisi mangkuk-mangkuk keramik, tetapi ketika pengunjung melewatinya, rak tersebut akan bergoyang dan mungkin akan membuat mangkuk tersebut pecah dan jatuh. Belakangan saya baru mengetahui bahwa labirin di dalam ruang pamer juga merupakan sebuah karya dari pameran ini. Setelah keluar dari labirin, setiap pengunjung diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan berkaitan dengan pameran ini.

Ada beberapa hal yang akan saya jadikan catatan dari pameran Wahana Extranoema ini. Pertama, durasi pameran yang hanya berlangsung selama tiga jam. Tajuk yang diangkat oleh Wahana Extranoema adalah “Pameran sebagai sebuah performans”. Waktu yang sangat singkat tersebut seolah menegaskan bahwa pameran ini adalah sebuah performans, karena pengunjung tidak diberi kebebasan untuk memilih waktunya masing-masing untuk datang ke pameran ini. Namun performans seperti apakah yang hendak disampaikan oleh Wahana Extranoema?

Catatan berikutnya adalah tentang karya-karya yang ada di Wahana Extranoema ini sendiri. Semua karya yang ada di pameran ini bersifat interaktif. Beberapa karya meminta pengunjung untuk memberikan respon, dan beberapa karya lainnya memberikan respon dari stimulus yang diberikan pengunjung. Karya terbentuk dari gagasan seniman ditambah dengan stimulus yang datang dari setiap pengunjung. Itulah mengapa terdapat kata ‘wahana’ di judul pameran ini. Pameran ini mencoba untuk memberi pengalaman kepada pengunjung melalui keterlibatan langsung mereka dengan karya yang ada.

Catatan ketiga adalah tentang presentasi karya-karya yang ada di pameran ini. Meskipun nama-nama seniman yang berkarya di pameran ini disebutkan di publikasi pameran ini, tidak satupun karya yang ditampilkan diberi keterangan judul, nama seniman, medium dan lain lain. Dalam kurasi pameran ini disebutkan bahwa kesepuluh seniman yang ada di pameran ini berkolaborasi untuk membuat pameran yang mana pameran itu sendiri adalah sebuah karya performans. Penghilangan keterangan tersebut juga menghilangkan individualitas dari setiap seniman yang berkarya. Tampaknya memang mereka tidak  mengejar pengakuan personal terhadap masing-masing individu. Meskipun kelompok seniman yang berpameran ini tidak menyebutkan bahwa mereka sedang membuat gerakan, grup, atau manifesto tertentu, namun jelas bahwa mereka sedang mengedepankan semangat-semangat komunalisme dalam berkarya.

Pameran ini tampaknya memang sengaja dibuat untuk membuat pengunjung bertanya-tanya, apalagi dengan minimnya informasi yang diberikan dari publikasi, kurasi, dan presentasi karya (Semoga saja pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terjawab dari diskusi yang akan dilaksanakan tanggal 30 nanti). Banyak hal yang disuguhkan dari Wahana Extranoema, sehingga agak sulit untuk memberi definisi yang jelas terhadap pameran ini, tetapi terlepas dari persoalan wacana kesenian, pameran ini berhasil memberi sebuah pengalaman yang menyegarkan bagi pengunjung.

 

 

Ady Nugeraha, alumni Seni Rupa yang tinggal di Bandung.

foto: dok. Wahana Extranoema



Comments are closed.