Social Media

Soemardja Award 2012

Profil Nominator Soemardja Award 2012

October 23, 2012      Events, Exhibitions, Past      Administrator      no responses

Tagged with:



Penganugerahan Soemardja Award, yang akan diadakan pada tanggal 24 Oktober pukul 19.00 WIB di Galeri Soemardja, akan diberikan kepada salah satu dari 11 nominator yang terpilih. Berikut ini adalah profil dari masing-masing nominee.

 

Ahmad Nursalim

Ahmad Nursalim, atau biasa dipanggil Alim adalah salah satu dari lulusan pertama Seni Intermedia di ITB. Dalam karya Tugas Akhir yang berjudul “Lansekap Virtual Bandung”, Alim berusaha untuk merekonstruksi kota Bandung sesuai dengan imajinasinya. Tidak hanya itu, ia kemudian juga mengajak audiens untuk masuk ke dalam kota Bandung virtual yang dibuatnya melalui sebuah simulasi digital.

Kota Bandung dipilih karena Bandung adalah kota tempat tinggalnya sekarang, yang akhirnya memiliki kedekatan personal dengannya. Sebelum merekonstruksi Bandung, pertama-tama Alim melakukan riset dengan mengumpulkan  data-data tentang sejarah, geografi, mitos, dan dongeng yang ada di Bandung. Materi data yang terkumpul tersebut kemudian disusun ulang menggunakan metode bricollage, hingga menjadi sesuatu yang baru. Objek-objek baru tersebut terlihat cukup absurd dengan unsur-unsur surrealisme di dalamnya, meskipun begitu kita masih bisa mengidentifikasi objek tersebut. Komposisi objek-objek yang diciptakan Alim, kemudian diatur sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah narasi visual, namun tetap terbuka bagi interpretasi audiens. Ketika berhadapan dengan karyanya, audiens tidak hanya melihat, tetapi diajak berinteraksi dengan karyanya sehingga pengalaman estetis yang biasanya terjadi di dalam benak audiens kini bisa langsung direalisasikan di dunia nyata.

Lansekap Virtual Bandung, Ahmad Nursalim, 2012

Lansekap Virtual Bandung, Ahmad Nursalim, 2012

 

Antonio Sebastian Sinaga

Antonio Sebastian Sinaga, atau yang biasa dipanggil Nino menempuh pendidikan di Studio Seni Keramik. Dalam karya Tugas Akhirnya, Nino yang juga seorang penganut agama Kristen, mengangkat tentang perbedaan interpretasi terhadap ajaran agamanya.. Dalam karya ini ia berusaha menggambarkan tentang banyaknya aliran dan perbedaan pendapat dalam beragama, baik dalam skala kecil atau yang lebih besar, dan pada akhirnya membuat dirinya merasa terganggu dalam menjalankan ajaran agamanya. Oleh karena itu dalam karya Tugas Akhir yang diberi judul “Fragmentasi Dalam Kristen”, ia berusaha untuk melepaskan kegundahannya terhadap permasalahan tersebut.

Tugas Akhir ini terdiri dari tujuh karya, dimana tiga karya dibuat dengan media keramik dan empat karya dibuat dengan media fotografi.  Ketiga karya keramik masing-masing digunakan untuk merepresentasikan Tuhan, Agama, dan umat Kristen. Sedangkan karya fotografi digunakan untuk memberikan gambaran tentang permasalahan fragmentasi yang terjadi dalam lingkup gereja, sosial, keluarga, dan pribadi. Dalam karya ini Nino mengkonstruksi berbagai ikon dan simbol seperti objek, warna, dan pencahayaan untuk menyampaikan narasi-narasi tentang dari tema yang diangkatnya.

Fragmentasi Dalam Kristen, Antonio Sebastian Sinaga, 2012

Fragmentasi Dalam Kristen, Antonio Sebastian Sinaga, 2012

 

Bonggal Jordan Hutagalung

Bonggal berasal dari Yogyakarta dan tinggal di rumah orang tuanya yang juga sekaligus merupakan galeri barang antik. Jadi bisa dikatakan bahwa Bonggal besar di lingkungan yang sarat akan unsur kerajinan. Kondisi yang seperti itu yang kemudian melatarbelakangi Tugas Akhir yang berjudul “Eskapisme dan Proses Produksi Konsumsi”. Dalam karya Tugas Akhir ini, Bonggal mengangkat konflik yang terjadi dalam proses produksi-konsumsi produk kerajinan atau sebuah karya seni. Bonggal, yang menempatkan dirinya sebagai produsen, merasa kesulitan untuk berkompromi dengan selera dan kebutuhan konsumen, dimana ia harus mengorbankan kesenangan pribadinya dalam membuat sebuah karya demi memenuhi selera estetis konsumen. Maka dari itu kata ‘eskapisme’ dalam judul karya ini merujuk pada upayanya untuk keluar dari hubungan kompromis antara produsen dan konsumen.

Karya ini terdiri dari puluhan objek-objek keramik stoneware berukuran kecil yang disusun di atas empat buah rak kayu. Dalam karya ini Bonggal berusaha mencari kesenangan dalam berkarya dengan mengandalkan intuisinya saat membuat bentuk keramik. Teknik yang digunakan adalah teknik pinching dan coiling, yang menurutnya mampu memberi kemungkinan bentuk yang sangat luas. Alhasil bentuk objek-objek yang dihasilkan terkesan liar, jenaka, dan imajinatif. Meskipun warna pada sebagian besar karyanya bernuansa kelabu dan kusam, namun Bonggal menambahkan aksen warna-warna cerah seperti kuning, merah, jingga, dan biru. Secara keseluruhan tampilan akhir dari karya ini setelah disusun di atas rak mengingatkan kita dengan susunan display produk di sebuah toko yang memberikan konteks hubungan produksi-konsumsi dalam karya ini.

Eskapisme dan Proses Produksi Konsumsi, Bonggal Hutagalung, 2012

Eskapisme dan Proses Produksi Konsumsi, Bonggal Hutagalung, 2012

 

Mohammad Brendan Satria

Brendan lahir di Jakarta 26 April 1988. Menjalani pendidikan di Seni Rupa ITB dengan mengambil spesialisasi studio seni grafis sejak tahun 2006 dan lulus tahun 2011. Pada tugas akhirnya, Brendan membuat karya cetak dengan teknik cukil kayu dan proyek tugas akhirnya diberi judul “Bermain: Sebuah Solusi Penyimpangan Sistem Pendidikan Kita”. Judul ini memperlihatkan tema dalam karya Brendan yang mengangkat permasalahan sistem pendidikan di Indonesia yang bagi Brendan memperlihatkan dehumanisasi bagi para siswanya. Gagasan yang di sampaikan Brendan, adalah dengan memasukkan unsur bermain dalam pendidikan, maka akan menghasilkan pendidikan yang menarik, interaktif dan lebih dinamis.

Karya Brendan memasukkan unsur bermain dalam karyanya, dengan menghadirkan bentukan permainan puzzle dan interaksi dengan audience. Dengan begitu audience dapat merasakan langsung pengalaman bermain dan lebih dalam memahami persoalan yang diangkat dalam karya. Selain video, Brendan juga memilih Teknik cukil kayu karena cukup sesuai untuk menghadirkan bentuk kepingan-kepingan puzzle. Pada karyanya, Brendan menghadirkan visual yang berhubungan dengan sekolah sebagai representasi permasalahan dalam dunia pendidikan. Bagi Brendan, pengalaman estetis dapat memicu timbulnya kesadaran dan memicu adanya perubahan dalam cara berpikir masyarakat (audience) tentang permasalahan dehumanisasi pendidikan.

Bermain: Sebuah Solusi Penyimpangan Sistem Pendidikan Kita, Mohammad Brendan S., 2011

Bermain: Sebuah Solusi Penyimpangan Sistem Pendidikan Kita, Mohammad Brendan S., 2011

 

Ferry Nurhayat

Ferry lahir di Bandung 1 Februari 1987. Menjalani pendidikan di studio patung Seni rupa ITB sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2011. Karya tugas akhirnya berjudul ‘Seduction’ menampilkan bentuk sebuah grand piano yang dilapis kain bulu berwarna merah. Bentuk piano dipilih karena kedekatan Ferry dengan jenis alat musik ini. Bagi Ferry, piano sudah dianggap sebagai teman dekat. Tema ini dipilih untuk menampilkan kesan menggoda pada karya yang akan dibuat.

Karya Ferry kali ini, menampilkan perpaduan antara ruang, waktu, suara dan bentuk visual. Pada karya ini, Ferry menganggap piano sebagai perempuan, sehingga bentuk piano yang dipilih adalah bentuk piano yang besar dan hampir tak bersudut. Pada karya ini, unsure suara yang dipilih adalah karakter suara perempuan yang menggoda. Melalui karya ini, Ferry mencoba mengajak pengamat untuk menjadi lebih peka terhadap suara dan visual yang terjadi di sekitar kita sehari hari. Dan Ferry percaya bahwa seni merupakan salah satu perangkat bahasa yang dapat mengajak manusia untuk berbuat sesuatu yang lebih baik melalui visual yang ia tampilkan.

Seduction, Ferry Nurhayat, 2011

Seduction, Ferry Nurhayat, 2011

 

Kara Andarini

Kara lahir pada 10 Februari 1989. Menjalani pendidikan di Seni Rupa ITB dengan mengambil spesialisasi studio seni grafis sejak tahun 2007 dan lulus tahun 2012. Karya tugas akhirnya berupa beberapa drawing ballpoin dengan judul ‘Rekonstruksi Potret Fabel’. Judul ini dipilih karena sesuai dengan proses kekaryaannya. Pada proyek tugas akhirnya kali ini, seluruh karya drawing Kara menampilkan potret beberapa binatang. Teknik drawing dipilih karena munculnya goresan garis khas yang dihasilkan oleh Kara ketika menggunakan ballpoin.

Dalam tugas akhirnya, Kara mengangkat persoalan traumatis yang ia alami ketika masa kecil yang menyebabkan Kara sulit untuk mengingat masa kecilnya. Kompensasi dari ketidakmampuan untuk mengingat memori masa kecilnya itu terwakili melalui bentuk simbolisasi tertentu, terutama sosok-sosok binatang pada cerita fabel. Dari hal itu, Kara membuat karakter binatangnya sendiri berdasarkan karakter orang-orang yang dihadapi langsung pada masa kecilnya dan merupakan sumber dari ketidaknyamanannya. Melalui karya tugas akhirnya, Kara seperti menterapi diri sendiri atau self theraphy dari perasaan tidak nyaman yang disebabkan oleh memori trauma masa kecil.

Rekonstruksi Potret Fabel, Kara Andarini, 2012

Rekonstruksi Potret Fabel, Kara Andarini, 2012

 

Laura Valencia

Laura lahir di Bandung 10 Februari 1989. Menjalani pendidikan di Seni Rupa ITB dengan mengambil spesialisasi studio seni lukis sejak tahun 2007 dan lulus pada tahun 2012. Pada tugas akhirnya, ia membuat karya lukisan di atas kanvas dengan judul proyek tugas akhir “Subject As Visible Object”. Melalui judul ini, Laura ingin menghadirkan interaksi semu antara objek dalam kanvas dengan pangamat. Karya ini, mengangkat keresahan dan ketakutan manusia ketika merasakan adanya tatapan serta penilaian dari orang lain. Menurut Laura, keresahan tersebut justru menjadikan banyak orang saat ini tampil berpura-pura dan kehilangan kebebasan untuk menjadi diri mereka yang sebenarnya. Karya tugas akhirnya kali ini berdasar pengalaman yang dialami oleh Laura sendiri.

Lukisan Laura dibuat dengan kekontrasaan pencahayaan dan warna-warna gelap untuk melukiskan aura mengintimidasi  serta suasana mencekam. Selain itu Kesemua lukisan Laura menghadirkan kumpulan tiga orang, dan salah satunya menghadapi cermin. Melalui cermin ini, sosok dalam kanvas seolah melihat pengamat. Lukisan Laura dikerjakan dengan teknik realis. Teknis realis dipilih, karena dengan begitu karya-karya Laura seakan benar-benar menggambarkan kesehariannya, sehingga Laura lebih mudah menjadikan karyanya sebagai karya katarsis ketidaknyamanannya. Pada karya tugas akhirnya, Laura mendapat kesadaran bahwa sebenarnya manusia selalu menjadi objek, siapapun dia. Bahkan di saat kita merasa memegang kendali.

Subject As Visible Object, Laura Valencia, 2012

Subject As Visible Object, Laura Valencia, 2012

 

M. Zico Albaiquni

Zico lahir di Bandung, 8 Agustus 1987. Menjalani pendidikan di Seni Rupa ITB dengan mengambil spesialisasi studio seni lukis, sejak tahun 2007 dan lulus tahun 2011. Karya tugas akhirnya berupa lukisan cat miyak di atas kanvas, dengan judul proyek tugas akhir “Hijab”. Judul ini sesuai dengan ketertarikannya untuk mengobservasi hijab sebagai sebuah reperesentasi mengenai penampakan yang tidak ditampakkannya. Zico memang memiliki ketertarikan khusus dalam menggali persoalan dunia Islam masa kini, terutama dari sudut pandang sosiologi. Baginya Paradigma mengenai Islam memiliki tafsir yang plural. Tafsir ini menimbulkan ketegangan yang tak henti.

Pada tugas akhirnya, konsep hijab juga dihubungkan dengan permasalahan lukisan. Sehingga karya tugas akhirnya berupa lukisan cat minyak di atas kanvas yang ditutupi selubung. Selubung ini dimaksudkan untuk menghasilkan rasa penasaran  karena adanya ketersembunyian. Bagi Zico rasa yang dimunculkan dari titik penasaran atau misteri yang lebih dalam, dapat melahirkan pengertian terhadap sebuah lukisan menjadi lebih meluas dibanding apabila segala suatu hal terlihat jelas melalui tanda-tandanya.

Hijab, M. Zico Albaiquni, 2011

Hijab, M. Zico Albaiquni, 2011

 

Rega Ayundya Putri

Rega lahir di Surabaya16 November 1988. Menjalani pendidikan di Seni Rupa ITB dengan spesialisasi studio seni patung sejak tahun 2006 dan lulus tahun 2012. Proyek tugas akhirnya diberi judul “Dialog Di dalam Diri”. Judul ini memperlihatkan ketertarikan pada permasalahan personal yang diangkat oleh Rega dalam karya tugas akhirnya. Melalui karyanya ini, Rega mencoba memahami dirinya melalui sebuah proses komunikasi dengan dirinya sendiri. Latar belakang karya ini, adalah adanya kebiasaan dalam diri Rega untuk berdialog di dalam pikirannya.

Karya Rega kali ini menghadirkan bentuk figur dengan bahan resin. Figur-figur ini adalah merupakan self portrait Rega. Self portrait adalah bentuk representasi dari seniman, di mana seniman menempatkan dirinya sebagai subjek di dalam karyanya. Selaf portrait juga dijadikan Rega sebagai bentuk penelitian diri. Rega ingin menghadirkan pernyataan akan pemahaman dirinya menggunakan bentuk representasi dirinya. Bagi Rega, karyanya menghadirkan ‘pihak lain’ pada dirinya tanpa mengurangi sifatnya yang paling dominan: sifat tersembunyi dan ke-‘tidak-hadir’-annya.

Dialog Di dalam Diri, Rega Ayundya Putri, 2012

Dialog Di dalam Diri, Rega Ayundya Putri, 2012

 

M. Rega Rahman

Tugas Akhir yang dibuat oleh Rega berawal dari fobia terhadap serangga yang dimilikinya atau disebut juga Entomophobia. Dalam karya yang berjudul “Entomomorphic Phobia” ini, ia mencoba untuk melawan ketakutannya dengan membuat karya seni. Rega melakukan proses terapi secara bertahap dan perlahan yang kemudian dituangkan menjadi karya drawing.

Proses berkarya yang dilakukan Rega untuk karya ini sebenarnya sudah dimulai sejak mata kuliah Seni Grafis V, dimana dia membuat drawing dari imej-imej serangga yang diambilnya dari berbagai sumber. Sedangkan pada Tugas Akhir, Rega berusaha untuk lebih jauh lagi dengan mengumpulkan sendiri serangga-serangga yang akan digunakannya. Setelah terkumpul dan dibiarkan mati, tubuh serangga tersebut ia hancurkan dengan tangan. Serangga yang telah dihancurkan tadi kemudian diambil gambarnya dengan menggunakan mikroskop digital sehingga menghasilkan detail yang tinggi. Kemudian di tahap akhir, ia berusaha berkontemplasi dengan cara membuat drawing menggunakan  teknik pointilis dari hasil imej serangga yang telah dihancurkan sebelumnya. Secara keseluruhan karya Rega dapat dilihat sebagai sebuah jurnal tentang upayanya menyembuhkan fobia yang dimilikinya melalui medium seni.

Entomomorphic Phobia, M. Rega Rahman, 2012

Entomomorphic Phobia. M. Rega Rahman, 2012

 

Zusfa Roihan

Zusfa lahir di Boyolali 24 November 1987. Menjalani pendidikan di Seni Rupa ITB dengan mengambil spesialisasi studio seni lukis, sejak tahun 2006 dan lulus di tahun 2010. Pada karya tugas akhirnya ia membuat karya lukis dengan media cat minyak di atas kanvas dengan judul proyek tugas akhirnya “Ekletik”. Judul ini menggambarkan proses kekaryan Zusfa, dimana ia melakukan penggabungan dan pencampuran dari berbagai image yang didapatkan menjadi satu kesatuan komposisi. Proses ini merupakan responnya terhadap fenomena keseharian di sekitarnya yang seringkali menghadirkan kejutan-kejutan visual dalam berbagai hal, akibat proses semacam itu.

Lukisan Zusfa menghadirkan lukisan pemandangan pada bagian latar dan berbagai macam barang tersusun di bagian depan. Lukisannya dibuat dengan teknik realis, dengan mengambil referensi visual dari majalah, internet, dll. Image-image dalam karyanya, merupakan image-image yang berasal dari lukisan pelukis Indonesia periode 1940 – 1960an, diantaranya Hendra Gunawan, Sudjojono, Wakidi, dan Basuki Abdullah. Ini memperlihatkan ketertarikan Zusfa akan karya-karya seniman Indonesia beserta berbagai permasalahan nilai-nilai lokal di dalamnya. Bagi Zusfa, keaslian karya dapat hadir dengan memberikan konteks baru dan menata kembali kemungkinan arti dari apa yang sudah ada. Ia tidak harus dihadapkan pada sesuatu yang baru.

Eklektik, Zusfa Roihan, 2011

Eklektik, Zusfa Roihan, 2011

 



Comments are closed.