Social Media

Agung Prabowo (paling kanan), berfoto di depan karyanya

Lembaran Baru Seni Grafis Indonesia

October 17, 2012      Bulletin, Reviews      fatchi      no responses

Tagged with:



Minggu lalu rombongan mahasiswa  seni grafis dari beberapa kota  barangkali semua menuju satu tempat di daerah Palmerah, Jakarta. Sebuah gedung yang terletak di tengah-tengah hiruk pikuknya kota Jakarta ini akan dilakukan prosesi pembukaan dan pengumuman juara Trienal Seni Grafis Indonesia IV. Perhelatan seni grafis yang diadakan setiap tiga tahunan itu menyedot banyak perhatian para seniman, mahasiswa dan para pencinta teknik cetak konvensional ini. Tercatat 51 karya yang lolos sebagai finalis dari jumlah peserta yang menurut kabar yang beredar mendekati angka 250. Hasil seleksi yang ketat dengan line up juri yang tak diragukan lagi seharusnya menjadikan keputusan mutlak bahwa 51 karya finalis tersebut merupakan karya-karya grafis yang layak dan sesuai dengan harapan acara yang telah memasuki umur keempatnya ini yakni Menegakan Konvensi Seni Grafis.

Alasan – alasan yang melatarbelakangi lahirnya perhelatan seni mencetak ini semenjak tahun 2003 menurut pengamatan dan pengetahuan penulis adalah untuk menjaga konvensi baku yang ada pada seni grafis ini. Bermacam proses yang berbeda dalam pengerjaan masing-masing teknisnya, barangkali menjadi penting untuk para pelaku seni grafis dalam dalam memahami bahkan -sampai “di luar kepala”- segala seluk-beluk prosesnya.

Ciri khas yang paling utama dalam seni grafis ini tak bisa disangkal adalah kemampuanya menghasilkan karya yang serupa dalam jumlah banyak, yang dalam bahasa “pegrafis” disebut dengan ‘edisi’. Banyak hal-hal khusus lainnya, seperti penomoran, material (kertas, tinta, ground, dan lainnya), proses dan sebagainya yang juga merupakan ciri khas seni grafis. Namun dari seluruh ciri khasnya, kemampuan reproduksi inilah yang menjadikan seni cetak ini pada masa awal kemunculannya digunakan sebagai alat propaganda, industri dan untuk kepentingan publikasi dalam jumlah yang banyak. Di Indonesia pun pada tahun 1946, satu tahun pasca proklamasi yang dikumandangkan oleh Bung Karno, segera saja sekumpulan cetakan linocut (cukilan yang dilakukan dia atas lembaran linoleum)  yang dibuat oleh Baharoedin M.S. dan Mochtar Apin dikirim ke berbagai penjuru negara tetangga untuk menandakan keberadaan Indonesia yang telah resmi berdiri sebagai negara yang berdaulat penuh atas daerahnya.

Berdasarkan dari kisah sejarah itu, seharusnya bisa dilihat bahwa seni grafis di Indonesia tidak dianggap sebagai “anak baru” dalam belantika dunia seni rupa Modern Indonesia. Anggapan –yang sebenarnya tak lebih berasal dari para pelaku grafis sendiri- bahwa seni grafis merupakan seni kelas dua bila dibandingkan dengan “genre” seni yang lain semisal seni lukis dan seni patung, menyebabkan perkembangan seni grafis yang stagnan pada dewasa ini. Dan sayangnya, anggapan di atas seakan sudah “diamini’ dan menjadi “cara pandang bersama” oleh para pelaku seni grafis. Padahal,  upaya membanding-bandingkan semacam itu, boleh jadi merupakan sesuatu yang lazim untuk menemukan kelebihan dan kekurangan antara yang satu dengan yang lainnya, agar masing-masing dapat saling berbenah diri.

Menegakan konvensi seni grafis, yang merupakan tema dalam perhelatan Trienal Seni Grafis Indonesia IV 2012 ini sebetulnya bukan sesuatu yang baru dibandingkan dengan 3 edisi sebelumnya. Meski begitu dapat dicermati beberapa hal yang baru pada perhelatan kali ini jika dibandingkan dengan 3 “kakak”nya. Pada Trienal Seni Grafis IV ini terkesan semakin strict terhadap sisi formal seni grafis. Hal ini terbukti dari tidak tampaknya karya-karya dengan penggarapan yang merupakan pelebaran dari teknis aslinya (hand colouring & monoprint) ataupun yang berupa seni grafis terapan (instalasi dan trimatra) yang seringkali dianggap menghilangkan beberapa sisi ke-khas-an seni grafis ini.

Pertarungan pada wilayah konvensional yang terlihat melalui karya-karya yang lolos sebagai finalis, justru menjadi daya tarik dari pameran Trienal Seni Grafis Indonesia IV yang akan dipamerkan keliling di tiga kota lainnya setelah diselenggarakan sampai Bulan Oktober di Bentara Budaya Jakarta ini. Karya-karya yang tampak, mampu menunjukan kekuatan dari masing-masing teknis yang seniman pilih sebagai wadah dari ide dan gagasan yang ingin dituangkan. Barangkali inilah yang menjadi penyebab kuat kenapa para dewan juri meloloskan karya-karya ini sebagai finalis.

Melalui perhelatan Trienal Seni Grafis Indonesia yang semenjak edisi awal sampai saat ini mengedepankan kekuatan-kekuatan alami yang dimiliki oleh seni grafis, dapat dilihat bahwa ternyata pada praktiknya kekuatan-kekuatan alami tersebut sama sekali tidak mengurangi kekuatan-kekuatan karya baik dari segi teknis sampai dengan kontennya, sehingga surutnya semangat ‘menggrafis konvensional‘ yang terjadi belakangan ini harusnya bisa didobrak oleh para perupanya sendiri.

Alasan semacam kesulitan material, penggarapan (yang memang proses pencetakan sering kali terikat dengan penggunaan mesin press dan alat-alat yang layak) hingga fleksibilitas karakter teknisnya yang dianggap terbatas atau bahkan anggapan sebagai seni kelas dua yang minder bersaing dengan seni lukis dan seni patung, seharusnya sudah menjadi lembaran lama yang tak lagi menghantui para seniman grafis dewasa ini. Dengan begitu para seniman grafis generasi sekarang mampu membuat karya-karya grafis yang efektif, kuat dan memesona serta tak lagi menjadi generasi yang hanya berkeluh-kesah terhadap situasi yang dihadapinya. Sudah saatnya para seniman grafis saat ini membuat “surat” yang ditujukan kepada dirinya, kawan-kawan senimannya dan dunia seperti apa yang dilakukan oleh para perintisnya : kami telah bangkit !

 

- M. Fatchi, Pemerhati Seni Grafis, tinggal di Bandung.



Comments are closed.