Social Media

Suasana pameran Deden Imanudin (dok - Platform 3)

Yang Estetis dalam Perang

October 12, 2012      Bulletin, Reviews      Deca      no responses

Tagged with:



“Perang itu kotor dan brutal; tapi perang itu sekaligus estetis”. Itulah sepotong dari tulisan Deden Imanudin dalam katalog pameran tunggalnya. Pada Minggu 30 September lalu, perupa Deden Imanudin menggelar pameran tunggal pertamanya di Platform 3. Pemeran ini diberi judul “Militeria”, berlangsung 30 September – 28 Oktober 2012.

Melihat judul pameran, segera yang terbayang oleh kita adalah segala hal yang berhubungan dengan kemiliteran dan nyatanya memang begitu yang tersaji dalam ruang pamer yang terdiri dari dua lantai itu. Salah satunya adalah “PANZERKAMPFWAGEN IIIL”, sebuah lukisan cat akrilik di atas multiplex berukuran 130,8 x 75,9 cm. Menampilkan citra sebuah tank baja tampak samping, sehingga tampak terekspos bagian roda-roda bergerigi beserta bantalan rantainya. Juga tak ketinggalan moncong penembaknya. Yang unik, tank ini terlihat seperti terdiri dari dua buah tank yang ditumpuk. Pada bagian atas, terlihat sebuah tank yang lebih kecil, lengkap dengan roda-roda bergigi dan rantainya. Bentuk dari tank ini, memberikan kesan kokoh dan gagah. Pewarnaan tank yang cenderung monokrom kecokletan ditambah penggarapan lindap, membuat citra tank ini terparak (terbedakan) dari latar multiplex yang juga coklat.

Karya Deden Imanudin (dok - Platform 3)

Beralih pada “ST44PLUSAKA47”, kali ini Deden melukiskan citra sebuah senapan di atas sebuah multiplex dengan cat akrilik. Pada karya ini sekilas kita melihat sebuah senapan berwarna abu-abu, dengan penggarapan yang membawa pengalaman kita pada material logam (ada efek kilapan-kilapan). Di belakangnya terdapat bayangan senapan. Tapi bila dilihat seksama, ada perbedaan bentuk pada beberapa bagian antara senapan pada bagian depan dengan bayangannya yang dibuat kecoklatan gelap. Boleh jadi, keduanya adalah senjata yang berbeda, yang dibuat bertumpuk, disandingkan untuk sebuah perbandingan. Salah satunya mungkin adalah variasi model atau pekembangan bentuk dari senapan yang lainnya. Sementara itu “STIELHANDPINEAPPLEGRANATE”, sebuah gambar pensil di atas kertas. Menampilkan bentuk sebuah granat, dengan bagian bawahnya terbuat dari kayu, sedang bagian atasnya memperlihatkan bentuk jenis granat nanas. Gambar ini digarap juga dengan lindap (peralihan gelap terang) yang baik.

Selain tiga itu, kita masih bisa melihat gambar-gambar yang menampilkan citra pistol, pesawat tempur, seragam juga tentara. Tentu melihat karya-karya ini, ingatan kita dibawa lebih mendekati kepada gagasan tentang kemiliteran –barang-barang yang berhubungan dengan militer- daripada gagasan tentang sebuah peristiwa peperangan. Kita tidak melihat, misalnya, adegan peperangan yang menghadirkan ketegangan dan suasana kacau atau suasana setelah perang dimana ada kehancuran, kesedihan dan penderitaan.

Karya Deden Imanudin 2 (dok - Platform 3)

Maka karya-karya dalam pameran ini, bisa jadi lebih merupakan sebuah wahana pengetahuan yang memberikan pada kita pengetahuan tentang apa-apa saja dan bagaimana bentuk-bentuk peralatan militer yang ada pada perang dunia II atau militer Nazi Jerman (seperti tertulis dalam katalog). Melalui karya-karya inipula kita bisa menyaksikan kemampuan teknis yang cukup baik dari Deden dalam meniru citra-citra persenjataan yang ada, keterampilan dalam menggarap bentuk dan detil.

Boleh jadi, memang perang itu kotor dan brutal. Itulah yang mungkin ada di bayangan kita tentang peperangan, ketika melihatnya melalui berita-berita di televisi, media massa, film-film dan buku-buku. Tapi yang terlihat dalam pameran kali ini adalah bahwa perang itu sekaligus estetis. Setidaknya, estetis, dalam pameran ini kita tangkap dari bentuk-bentuk dan desain-desain persenjataan militer yang dihadirkan Deden. Dan hal estetis ini –bentuk dan desain- nampaknya adalah ketertarikan utama Deden yang terlihat dalam pameran ini, yang menggerakkannya membuat karya-karyanya…

 

-#######-

 

-danoeh tyas-

alumni Seni Rupa ITB,

tinggal dan bekerja di Bandung



Comments are closed.