Social Media

IMG_0618

Seniman yang Ditolak dan Diterima

October 7, 2012      Bulletin, Reviews      St. Rionaldo      no responses

Tagged with:



Pameran yang berjudul “The Wicked Artist and The Innocent Thief” ini diadakan di Gedung Indonesia Menggugat dan dibuka pada hari Senin tanggal 7 Mei 2012. AWANAMA, penyelenggara pameran, adalah sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa mahasiswa FSRD ITB dan dibentuk pada tahun 2012.  Sebuah kasus yang menimpa salah satu anggota kelompok ini pada tahun 2011 mendasari diadakannya pameran ini. Kasus tersebut sangat kontroversial dan sempat menjadi tajuk utama media di Indonesia.

Pameran ini menyoroti fenomena sosial yang terjadi ketika seni rupa (modern) berhadapan dengan masyarakat (pada umumnya). Sudah disadari sejak lama bahwa keberadaan seni rupa modern di Indonesia mau tidak mau harus dihadapkan pada pertanyaan seperti ini: “Apa fungsi sosial seni rupa modern?” Pertanyaan tersebut harus lahir karena seni tradisi masih hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Sejarah (seni rupa) telah membuktikan dengan terjadinya konflik-konflik di dalam dunia seni rupa itu sendiri. Sudjojono vs. Mooi Indie, Manikebu vs. Mukadimah LEKRA, sampai GSRB, sebagai beberapa contoh.

Dekade yang lalu, tepatnya pada tahun 2004, seni rupa (kontemporer) menemui nasib yang, katakan saja, naas. Sebuah karya monumental, yang telah bekeliling dunia, habis dibakar oleh Satpol PP. Mereka mengklaim apa yang dibakar itu adalah sampah. Karya berjudul “Special Prayer for The Dead” yang merupakan buah tangan dari Tisna Sanjaya  tersebut sedang dipamerkan di Babakan Siliwangi. Kasus ini diangkat ke meja hijau oleh Tisna Sanjaya sebagai penggugat dan Pemkot Bandung sebagai tergugat. Pada akhirnya, pihak penggugat kalah.

Dalam pameran ini, pengunjung dapat mengakses informasi mengenai kasus tersebut. Di dalam sebuah bingkai, pengunjung dapat membaca beberapa artikel (dari surat kabar) dan berkas (misalnya surat undangan saksi persidangan) yang terlibat dalam proses terjadinya kasus pembakaran karya tersebut. Dengan kata lain, pengunjung dapat melihat proses yang terjadi “di balik layar”. Tidak hanya kasus pembakaran karya tersebut, karya seni “yang ditolak” seperti “Pinkswing Park” karya Agus Suwage dan Davy Linggar, serta “Tiga Mojang” karya Nyoman Nuarta berada dalam ruang yang sama.

Denah Gedung Indonesia Menggugat yang menyerupai huruf “T” dimanfaatkan untuk memisahkan antara “Seni Rupa yang Ditolak” dan “Seni Rupa yang Diterima”. Ruang yang berada di sayap kiri berisi “Seni Rupa yang Ditolak”, sedangkan ruang di sayap kanan berisi “Seni Rupa yang Diterima”. Di ruang sebelah kanan, pengunjung dapat melihat perjuangan Moelyono dalam karya “Kesenian Unit Desa”, Tisna Sanjaya dengan “Pusat Kebudayaan Cigondewah”, Deni Ramdani dengan “Zona Merah”, Rahmat Jabaril dengan “Kampung Kreatif”, Isa Perkasa dengan “Makan Bendera”, Aliansyah dengan “The Legend of Trio Geboys”, dan Fajar Abadi dengan “Kueh Senyum”.

Selain melalui artikel, artefak, video, maupun wawancara dengan seniman yang bersangkutan, pengunjung pameran diajak untuk membaca (secara harfiah) sebuah cerita singkat yang dibuat berdasarkan karya seniman-seniman tersebut. Dalam cerita tersebut, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang pertama. Sang “Aku”, sebagai seniman, sedang bercerita tentang dirinya dan kejadian-kejadian di sekitarnya, serta tegangan yang terbangun di dalamnya. Pengunjung yang datang ke dalam gedung tersebut seakan-akan sedang membaca sebuah buku, namun halaman-halamannya berukuran sangat besar dan tidak harus dibaca secara linear.

Diskusi yang dilaksanakan pada hari Jumat 11 Mei 2012, merupakan bagian yang penting dalam pameran ini. Diskusi ini mengundang Yasraf A. Piliang, Rizki A. Zaelani, dan Bambang Sugiharto sebagai pembicara,serta Bambang Subarnas sebagai moderator. Dalam diskusi ini, ada beberapa poin penting yang layak untuk diperbincangkan lebih lanjut.

“Seni Rupa yang Ditolak” maupun “Diterima”, tidak terjadi pada tingkat moral. Maksudnya, “Seni Rupa yang Ditolak” bukan berarti tidak bermoral.  Keduanya sedang membawa “tugas moral”, meskipun memiliki landasan etika yang berbeda. Landasan etika yang berbeda itulah yang memicu konflik, karena di dalamnya dipermasalahkan tentang pantas/tidak pantasnya suatu karya. (Yasraf A. Piliang). Ideologi Pancasila cenderung memfasilitasi terjadi konflik karena di dalamnya berisi ideologi yang dalam tataran etis menjadi sangat kontradiktif (Yasraf A. Piliang). Namun, dalam kondisi yang kontradiktif tersebut justru timbul suasana kreatif apabila kita menanggapinya secara positif.

Dalam kasus pencekalan karya “Pinkswing Park” misalnya, pihak penolak (FPI) mengklaim bahwa karya tersebut tidak pantas untuk ditampilkan karena memperlihatkan ketelanjangan tubuh. Kedua seniman yang berkolaborasi dalam karya tersebut mengatakan bahwa instalasi itu  dibuat untuk mengkritisi budaya urban yang mendorong orang untuk seperti bermimpi atau mengidolakan hal-hal yang ideal dan hal yang nyaman walaupun hasilnya instan. Barangkali itulah “tugas moral” yang ditemukan dalam karya tersebut. Namun, dalam kasus ini, perlu dicatat bahwa pihak yang dituntut secara hukum justru Anjasmara dan Isabel Yahya yang menjadi model, bukan kedua seniman tersebut. Hal tersebut membangkitkan pertanyaan tentang motif sebenarnya pencekalan tersebut.

Heru Hikayat dalam sesi pertanyaan, memaparkan bahwa kondisi semacam ini membutuhkan dialog antara dua pihak yang bertentangan. Nyatanya, kondisinya tidak seideal itu karena seperti yang kita ketahui bahwa kelompok fundamentalis cenderung menghindari dialog. Sebuah pertanyaan pun mengemuka, “Bagaimana strategi seniman dalam kondisi demikian?” Sebuah jawaban sementara dipaparkan dalam diskusi tersebut, “Mungkin, seniman tetap harus terus berkarya dan ‘menyerang’ secara kontroversial.”

***

 

Stevanus Rionaldo, kurator pameran The Wicked Artist and The Innocent Thief

 



Comments are closed.