Social Media

Beberapa Karya yang Dipamerkan (Dok. Stevanus Rionaldo)

Mind Eye – 15 x 15 x 15 Mini Art Project

July 22, 2012      Events, Exhibitions, Past      Administrator      no responses

Tagged with:



Pembukaan: 17 Juli 2012
Pameran: 18 – 28 Juli 2012

Mind –Eye
There is no truth. There is only perception.
Gustave Flaubert

Terdapat sebuah anekdot terkenal dari peneliti Romawi kuno, Pliny tentang Zeuxis dan Parrhasius,dua orang pelukis terkenal Yunani kuno. Dikisahkan mereka bertanding tentang siapa yang dapat membuat lukisan terhebat. Zeuxis melukis anggur yang membuat burung datang dan mencoba mematuknya sementara Parrhasius melukis citra kain menutupi dinding yang akhirnya mengelabui Zeuxis. Tentu saja kita dapat menebak siapa yang memenangkan pertandingan tersebut. Anekdot tersebut menunjukkan tentang salah satu kekuatan naluriah manusia dan kontrol terhadapnya. Kekuatan persepsi.
Persepsi adalah proses penyadaran dan pengenal lingkup sekitar lewat pemaknaan informasi yang ditangkap indera. Apapun yang kita lihat, dengar, raba bisa menjadi apa yang dinamakan Percept (Hasil Persepsi). Uniknya Percept dari stimulus (objek yang dipersepsi) yang sama bisa menghasilkan percept berbeda-beda untuk setiap orang, hal tersebut dikarenakan persepsi bukanlah sebuah subjek pasif melainkan dipengaruhi oleh pengalaman belajar, ingatan, dan harapan dari individu yang melakukan persepsi tersebut. Persepsi bisa dikatakan sebagai sebuah pengalaman ‘Mind’s Eye’. Melihat sebuah visualisasi tidak hanya lewat indera tapi juga pemikiran kita.
Persepsi atau pencerapan indera merupakan hal yang penting, bukan saja untuk para perupa tapi manusia pada umumnya. Ini menjelaskan bagaimana mereka menangkap suatu fenomena dan mengubahnya menjadi ide yang bisa ditransformasi menjadi suatu objek fisikal atau sekedar pemikiran yang abstrak. Proses persepsi bisa dikatakan berjalan berbarengan dengan proses kreasi. Filsuf Sartre, bersebrangan dengan Plato melihat ide selalu dilahirkan dari pencerapan kita tentang objek-objek yang ada di dunia nyata. Saya memandang filsafatnya tersebut sebagai suatu dukungan terhadap persepsi, atau lebih tepatnya dukungan terhadap tujuan dari persepsi.
Banyak ahli menyatakan bahwa tujuan dari persepsi adalah pemuasan kebutuhan akan pengetahuan. Saya lebih setuju untuk mempersempitnya lagi menjadi kebutuhan akan bertahan hidup. Pengetahuan, sejauh yang selama ini saya sadari selalu digunakan oleh manusia untuk menjaga kesinambungan hidupnya, baik jasmani maupun rohani. Hewan tentu saja menyadari keuntungan dari persepsi, terutama persepsi dari pemangsa mereka (mimikri- yang digunakan untuk melindungi diri) tapi hal tersebut berjalan secara alami, hanya manusia-lah yang dapat memanfaatkan Persepsi untuk tujuan kreasi.
Dalam tingkatan yang paling sederhana seni pada awalya dibuat untuk mengelabui, menciptakan ilusi atau justru membuat kita yakin akan pesan yang di perantarai oleh mediumnya. Persepsi membuka jalan dalam pemenuhan tujuan tersebut. Pengelabuan akibat persepsi dalam karya seni atau yang paling sederhana,-sebuah benda visual adalah sesuatu yang hampir mutlak. Ia tidak bisa lepas darinya. Contoh pengelabuan yang baik dapat kita ambil contoh pada gambar yang akrab dikenal sebagai Vas Rubin. Ditemukan seorang Psikolog Denmark bernama Edgar Rubin- gambar sederhana (yang kini memiliki banyak modifikasinya) tersebut memperlihatkan sebuah vas yang sekaligus bisa terlihat menjadi dua wajah saling berhadapan. Kita mendapatkan dua pengalaman melihat dan merasakan sekaligus tapi juga tidak bisa melihat kedua sudut pandang tersebut pada saat yang bersamaan. Vas Rubin dan banyak tipuan mata lainnya merupakan contoh dari bagaimana manusia mampu menciptakan sebuah stimulus baru yang mampu menipu, menganggu, dan mempesona pikiran mereka sendiri. Karya seni seharusnya selalu jadi stimulus yang potensial karena ia bisa menggiring dari ide (sang perupa) menjadi ide kembali (di benak apresiator). Persepsi dan seni bukanlah hal yang identik tapi mereka bagaikan sebuah konsep infinite yang saling melahirkan.
Tentu saja konsep persepsi di sini tidak bisa dipisahkan dari konteks pameran ini. Sejak pertama kali diadakan, Pameran 15x15x15 harus dipahami sebagai sebuah perhelatan dimana ukuran karya sebagai sebuah bentuk selalu menjadi sebuah “konsep” tersendiri. Rudolf Arnheim menyatakan bahwa bentuk adalah sebuah konsep, salah satunya karena sifat dan karakternya yang khusus dan khas, yang bisa digunakan untuk membandingkannya dengan yang lain . Persepsi yang dipilih sebagai tema perhelatan 15x15x15 keempat ini dipandang sebagai sebuah “tribute” tersendiri bagi keberadaan pameran ini. Persepsi menunjukkan ukuran akhirnya bisa dilihat sebagai salah satu stimuli terhebat untuk kreatifitas. Lingkup berkarya yang dibatasi ternyata bisa jadi salah satu cara yang baik untuk mengawali- kembali kesadaran dan keluwesan menciptakan ruang baru, di mana batasan bisa menghasilkan sesuatu yang lebih.
Terdapat satu kata mutiara yang sinis,” manusia hanya ingin mendengar apa yang mereka ingin dengar, manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat”. 68 individu yang terseleksi dalam pameran ini memang menjawab tantangan untuk mengelaborasi ukuran sebagai sebuah stimulus tersendiri, tapi kini tantangan baru justru dimulai. Bagaimana stimuli tersebuat akan menyampaikan maknanya masing-masing pada apresiator tetaplah menjadi misteri. Well, welcome to your own mind eye…

Riezky Putra



Comments are closed.