Social Media

Seeing Java

Seeing Java

June 1, 2012      Events, Exhibitions, Past      Administrator      no responses

Tagged with:



Galeri Soemardja, Sangkring Art Space dan Valentine Willie Fine Art mengundang Anda dalam pembukaan:
“Seeing Java”


Dadang Christanto 31 Mei – 22 Juni 2012
Pembukaan
Kamis, 31 Mei 2012 | Pukul. 19.30 WIB
Galeri Soemardja Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha 10
Bandung
Jam buka
Senin – Jum’at
09.00 – 16.00 WIB  Sabtu- Minggu tutup
 
Selepas sukses APT1 1993 yang menampilkan For Thoses Who Have been Killed,
sebuah instalasi yang mengharu-biru sehingga bertaburan bunga simpati dari
para pengunjung galeri; instalasi They Give Evidence (1996-1997) yang turut
mengundang empati; Proyek 1001 Manusia Tanah (1996); puluhan figur kertas dalam
Fire in May 1998 yang dibakar pada pembukaan APT3 (1999); Dadang Christanto
memutuskan untuk bermukim di kota Darwin, Australia. Di sana ia aktif berkarya,
berpartisipasi dalam sejumlah program kesenian. Sampai 2003, dia mengajar di
sekolah seni rupa kota itu.
Masa bermukim di negeri kangguru ini penting dicermati mengingat penciptaan
tema dalam kesenian Dadang tidak terlepas dari permasalahan (sejarah) sosial
dan politik Indonesia. Karena itu, bentangan jarak antara seniman dan arena
sosialnya tak jarang membangun “ilusi perlawanan”. Dengan jarak ini orang
mudah curiga: di mana letak ketegangan sikap kritis yang dilancarkan ke
rezim otoriter (Orde Baru) apabila seorang seniman melakukannya di luar negeri?
Dr. Caroline Turner menjawab kecurigaan ini melalui pintu yang lain.
Ia menegaskan:” Dadang Christanto bukan seniman politis. Maksud saya dengan
pernyataan itu ialah bahwa karyanya tidak berkepentingan dengan politik
melainkan dengan sesuatu yang menjadikan kita manusiawi.”
Karya terbaru Dadang dalam pameran kali ini melihat kembali Jawa sebagai
arena permasalahan. Masih dengan strategi instalasi ratusan cetakan keramik
kepala manusia yang bertumpuk-tumpuk membentuk piramida yang telah menjadi
ciri khasnya terutama semenjak instalasi Kekerasandalam pameranTraditions/Tensions (1996),
kali ini Dadang menawarkan“makna baru” di atasnya. Hal ini pernah dia lakukan dalam
Fire in May 1998yang mencetak ulang model Proyek 1001 Manusia Tanah dengan bahan kertas
(papier-mâché). Apabila pada Kekerasan Dadang masih menyelipkan permasalahan tanah
kaum marjinal, dalam Seeing Javakepala-kepala itu menyasar ke hal tentang bagaimana
Dadang melihat, mempertanyakan dan mengkritisi Jawa di abad ini dengan menyorongkan
tiga konfigurasi simbolik: manusia, gunung dan lumpur.
Dengan begitu, dasar tema Seeing Java adalah identitas.
(Aminudin TH Siregar)



Comments are closed.